Anda Bisa Jadi Jutawan Dengan Menjual Plester Anti Bicara


Suatu hari anak laki-laki saya menangis, setelah selesai dicukur oleh ibunya. Pas ditanya sebabnya apa, dia bilang “Cukuran umi terlalu pendek, nanti disekolah Abang diledekin temen, dibilang ‘Botak Licin’.”

Saya menasehati, bahwa ngga penting apa yang orang lain katakan, selama apa yang kita lakukan itu ngga salah dan ngga merugikan orang lain. Tapi setelah menasehati si Abang, saya jadi inget bahwa orang dewasa juga seringkali bersikap seperti itu : terlalu takut terhadap apa yang dikatakan orang, sehingga seringkali mengorbankan perasaan diri sendiri, malah sampai mengorbankan istri, anak, dan keluarga dekat.

Ibu saya pernah mengatakan satu nasihat yang ngga pernah saya lupa :

Kita hanya punya dua tangan, dan ngga mungkin kita menutup mulut semua orang dengan dua tangan tersebut, jadi yang bisa kita lakukan adalah menutup telinga kita sendiri.

Kalo Anda bisa menemukan Plester Anti Bicara, rasanya Anda bisa jadi jutawan. Banyak yang membutuhkan, untuk menutup mulut orang lain, dan mungkin mulut kita sendiri.
Tapi, selama plester itu belum ditemukan, saya selalu inget nasihat Ibu saya jika ada orang yang membicarakan sesuatu yang buruk tentang diri saya, bahwa yang bisa kita lakukan hanyalah menutup telinga kita sendiri.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

4 tanggapan untuk “Anda Bisa Jadi Jutawan Dengan Menjual Plester Anti Bicara”

  1. auto debet bukan hanya bisa diterapkan pada duniaperbankan saja . kalau keburukan kita dibicarakan orang lain maka dosa kita akan berkurang . enak nya ! makanya sok ngegosip biar tekor ! salam blogger bang borys

    1. Semoga aja keburukan kita hanya sedikit, ya Kang…udah sedikit, terus dibicarakan orang, jadinya impas 🙂
      Salam blogger dan Salam Insan Super!!!

  2. Hmm… nggak semua yg di katakan orang2 itu buruk loh. Kadang juga ada yg baik. Tugas kita adalah memilah mana yg baik dan mana yg buruk. Cuma paradigma kita selalu merasa apa yg orang2 bilang adalah satu kebenaran tanpa memilah mana yg bersifat positif dan membangun dengan yg negatif.
    Walaupun konteks nya berbeda, tapi bottom line tulisan ini akan bertolak belakang dengan salah satu tulisan mu ttg “Ini Adalah Yang Bagus Menurut Mereka, Bukan Menurut Anda”.
    Kita akan melewatkan banyak hal kalau kita selalu menutup telinga.

  3. Alo Mbak Aida! Setuju banget dengan komenmu, bahwa kita harus memilah yang positif dan negatif. Kalo menurut saya, harus dibedakan antara memberi masukan/kritik negatif yang membangun, dan membicarakan sesuatu yang buruk. Dan plester anti bicara ini hanya kiasan, yang menekankan bahwa jangan sampai omongan buruk orang mempengaruhi kita, bahkan sampai membuat ‘down’.

    Segala sesuatu bergantung pada konteks, Mbak Aida. Kalo Anda meletakkan perahu di laut, tentu berbeda hasilnya kalo Anda meletakkan perahu di tengah jalan. Di laut, perahu adalah sesuatu yang berguna, tapi di tengah jalan, si perahu jadi ngga berguna, malah jadi pengganggu di jalan raya.
    Tulisan “Ini adalah yang bagus menurut mereka, bukan menurut Anda“, konteksnya adalah Anda menyediakan layanan/produk untuk orang lain, bukan tentang orang yang membicarakan keburukan kita.

    Tetap semangat Mbak Aida, dan Salam Insan Super!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s