Garis Finish Ada Di Belakang Bukit Itu


Awal 1994. Saya mewakili sekolah dalam event Borobudur 10K, lomba lari 10 kilometer yang garis finish nya di Candi Borobodur – Jawa Tengah. Pesertanya bermacam-macam, dari mulai atlit lokal sampai orang bule.

Sekolah saya itu semi-militer, jadi lari udah makanan sehari-hari. Tapi 1 bulan sebelumnya, latihan intensif diadakan. Rasanya, dengan latihan itu, jarak 10 kilometer ngga ada masalah. Rasanya. Sampai saat saya mencapai kilometer ke-7.

Di kilometer ke-7, rasanya mau mati. Nafas udah ngga karuan, kaki sepertinya udah ngga kerasa, mata berkunang-kunang. Saat itu, saya udah mau berhenti aja, terlintas di pikiran bahwa saya ngga bisa dan ngga punya kemampuan untuk menyelesaikan 3 kilometer selanjutnya. Mau berhenti.

Di tengah pikiran yang ngga karuan, terbayang latihan-latihan yang udah saya jalani, gimana bangganya terpilih mewakili sekolah, gimana percaya dirinya saya bakal mencapai garis finish, dan terbayang rasanya jika saya mencapai garis finish. Tiba-tiba ada suntikan energi, yang mengatakan bahwa garis finish ‘ada di belakang bukit itu’. Pokoknya yang saya pikir kemudian, saya harus terus berlari.

Yang terjadi kemudian bener-bener aneh. Melewati kilometer ke-8, semuanya terasa enteng, bahkan saya bisa lari lebih kencang dibanding kilometer-kilometer sebelumnya. Akhirnya saya finish di Borobudur dalam waktu sekitar 40 menit-an.

Banyak kegagalan hidup terjadi, karena orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika mereka menyerah. -Thomas A. Edison-

Kita seringkali sampai pada apa yang saya sebut ‘falling point’ (titik kejatuhan).
Titik dimana kita merasa kita ngga mampu melanjutkan usaha mengejar impian/cita-cita, atau saat menyelesaikan tugas/kerjaan yang diberikan kepada kita. Saat itu kita merasa kita ngga memiliki kemampuan untuk meneruskan usaha tersebut, dan segala harapan rasanya terputus.

Jika anda merasakan hal serupa, jika anda sudah berada tepat di ‘falling point’, saat semua harapan rasanya udah terputus dan anda udah mau menyerah, katakan 100 kali kepada diri anda sendiri : “garis finish ada di belakang bukit itu”.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

2 tanggapan untuk “Garis Finish Ada Di Belakang Bukit Itu”

  1. Berbahagialah dengan pencapaian KESUKSESAN yang telah dicapai setelah melewati bukit itu, yang banyak orang tidak tau atau ragu bahkan putus asa ‘falling point’ apakah garis finish itu benar benar ada dibalik bukit itu atau ada beberapa bukit kecil lagi untuk mencapai garis finish yang sesungguhnya karena telah merasa melewati bukit bukit yang semakin tinggi rasanya dan semakin tinggi. Jawabannya TETAP SEMANGAT, SYUKURI dan terima dng IKHLAS plus SENYUM yang lebar apapun hasil terbaik sementara yang telah dicapai sampai garis finish KESUKSESAN IMPIAN Anda tercapai….:-). SALAM SENYUM untuk INSAN SUPER BORRYS HASIAN

  2. @indra
    Comment yang bagus, Bung Indra : Tetap semangat, bersyukur, ikhlas, dan senyum.
    Gimana bisnisnya? Udah jarang banget kita kontak-kontakan nih.
    Salam Senyum juga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s