Bayi Laptop


Hari ini, anak kedua saya, my little princess Nasha berusia 5 taun. Begitu takjub untuk melihat bagaimana seorang anak tumbuh, dari bayi yang ngga berdaya, sampai menjadi anak kecil yang ‘cerewet’. Waktu berjalan terlalu cepat.

Seringkali kalo ada satu event penting, pikiran kita suka terbayang kejadian-kejadian jaman dulu yang berhubungan dengan event penting tersebut. Jadi inget bahwa satu waktu, saya dan istri pernah menjuluki little princess kami dengan satu nama : Bayi Laptop.
Begini ceritanya :

Taun 2005-an, saya masih berjuang membangun karir, masih ‘hijau’ di dunia kerja, dan saat itu kerja di perusahaan yang ngga ada tanggungan untuk biaya melahirkan. Saat itu saya udah punya anak satu.
Tiba saat melahirkan, istri saya “ngotot” untuk melahirkan secara normal, tapi bayi ngga keluar juga. Kemudian dokter memberikan cairan induksi, semacam ‘pemaksa’ agar bayi keluar. Sampai tiga dua labu induksi, bayi ngga mau keluar juga. Kabarnya, proses induksi itu bener-bener sakit untuk si Ibu, karena rasa mules yang didapat luar biasa besar, untuk ‘memaksa’ si bayi keluar. Akhirnya, dokter mengatakan bahwa istri harus di cesar.

Di tengah kesakitan akibat induksi, istri saya masih sempet-sempetnya menolak cesar. Alasannya cuman satu, satu alasan yang kuat : Ngga ada biaya.
Tapi, ngga ada jalan lain, karena bayi udah harus keluar, kalo ngga keluar saat itu juga, bisa meninggal didalam. Akhirnya istri saya dicesar.

Saya pun memutar otak, sampai pusing rasanya. Gimana cara bayar biaya itu?

Saat itu saya punya laptop, pemberian Adiknya Ibu. Ngga ada jalan lain selain menjual laptop ini. Tapi dimana ya bisa jual laptop secepatnya, dengan harga yang bagus? Saya coba ke Mangga dua dan sejenisnya, laptop saya hanya dihargai 40% dari harga aslinya. Ini gila, kalo dijual dengan harga itu, laptop hilang, dan istri plus bayi tetep ‘ditahan’ di Rumah Sakit Bersalin.

Setelah cara menjual cepat ngga bisa, saya coba membuat e-mail, dan mem-post pengumuman dibanyak mailing list dan forum. Pokoknya bener-bener desperate. Tetep aja ngga ada respon, mungkin juga karena spec laptopnya termasuk tinggi, dan harganya cukup mahal.

Pusing. Bingung. Pusing. Ngelamun ngga tau harus berbuat apa-apa. Bingung. Pusing.

Harapan itu seperti suatu jalan di pedesaan, sebelumnya ngga pernah ada jalan itu. Tapi, setelah banyak orang yang melalui jalan itu, ia pun menjadi suatu jalan yang eksis.-Lin Yutang-

Sampai suatu pagi, di hari ke 2 setelah saya membuat pengumuman di mailing list dan forum, tiba-tiba di inbox email saya ada yang bilang : “Saya tertarik, berapa harga fix nya?”
Ngga tau harus berkata apa, yang saya inget, saya meneteskan airmata, ngga bisa bilang apa-apa.
Laptop itu terjual dengan harga 70% dari harga asli, walaupun pas untuk bayar biaya cesar, tapi istri dan my little princess bisa pulang ke rumah dengan bahagia.

Jadi, jangan berhenti berharap, jangan pernah sesekali berhenti berharap.
Ada saatnya, ketika semua usaha tampaknya sia-sia, ketika semua harapan tampaknya berakhir di lorong gelap yang ngga ada ujungnya, saat semuanya seperti berakhir, jangan pernah sesekali berhenti berharap, karena saat itulah pertolongan akan datang.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

2 tanggapan untuk “Bayi Laptop”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s