Seharusnya Ada Pelajaran Membidik Di Sekolah Dasar

Beberapa minggu ini saya disibukkan dengan salah satu kegiatan terpenting dalam hidup : persiapan pulang kandang ke Indonesia.
Udah hampir 3.5 tahun tinggal di negeri orang, rasanya udah waktunya untuk pulang. Rasanya.
Dari dulu, saya selalu percaya feeling, dan kalo sesuatu itu saya rasa udah waktunya, walau apapun yang menghalangi, saya terus maju.

Banyak yang ‘protes’, kenapa saya mau pulang. Berbagai macam komentar, bahkan ‘prasangka’. Ada yang bilang kok ngga bersyukur udah dapet kerja yang enak, bahkan sampai ada yang tega menuduh saya ‘udah ngga diperlukan’ oleh perusahaan yang sekarang.

Ada alasan lain. Alasan yang ngga bisa dilihat oleh orang lain selain saya sendiri, istri saya, ibu saya, dan sedikit orang-orang yang mengerti. Alasan lainnya adalah : saya membidik sesuatu yang jauh lebih tinggi.
Saya yakin bahwa “membidik sesuatu yang jauh lebih tinggi” bukan tanda ngga bersyukur, malah itu tanda bersyukur, karena kita berusaha menggunakan semua potensi yang diberikan oleh Tuhan dengan optimal.

“Bahaya terbesar untuk kebanyakan dari kita, adalah bukan kita membidik terlalu tinggi dan kita luput dari sasaran itu, tapi bahaya terbesar adalah kita membidik terlalu rendah, dan kita mencapainya.”-Michelangelo-

Banyak orang ngga mau membidik terlalu tinggi. Beribu alasan. Dan dengan alasan tersebut, kita menyia-nyiakan potensi besar yang dimiliki oleh diri kita masing-masing.
Buat saya sendiri, ngga ada salahnya membidik terlalu tinggi, dan jika dengan membidik terlalu tinggi itu bisa memberi banyak kelebihan dan potensi diri bisa digunakan secara optimal, maka sampai membidik bulan pun akan saya lakukan.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

2 tanggapan untuk “Seharusnya Ada Pelajaran Membidik Di Sekolah Dasar”

  1. salam insan super…
    banyak orang yg ga mau membidik terlalu tinggi tu, karna dah tau jangkauan peluru (kemampuannya) sampai dmn, makannya membidiknya yg rendah2,,,

    bukannya sesuatu yg percuma bila kt membidik terlalu jauh tapi peluru kt tdk akan sampai….??

    1. Salam Insan Super juga Iqbal!

      Misal, dari umur 6 tahun kita udah pake cara membidik rendah sesuai kemampuan, kira-kira kebanyakan orang bakal bermimpi ngga untuk bisa lulus SD, trus masuk SMP, trus SMA, bahkan sampai perguruan tinggi?
      Ambil contoh saat kita 6 tahun tersebut. Selama 6 tahun sebelum ujian akhir untuk lanjut ke SMP, kita belajar segala sesuatu secara bertahap, dari mulai membaca, berhitung 1-2-3, terus sampai kita belajar hal yang lebih tinggi lagi tingkatannya, dan akhirnya kita siap untuk menjalani ujian akhir SD.

      Nah, sama halnya dengan membidik sesuatu yang tinggi. Bisa jadi kemampuan kita sekarang ngga memadai, tapi untuk mencapai hal tinggi itu ada hal-hal yang harus kita lakukan, misalnya : belajar lebih, bertanya kepada yang udah pengalaman, baca buku, latihan, dll.

      Jadi, saat menetapkan tujuan/sasaran yang lebih tinggi, jangan diberatkan dengan kemampuan kita sekarang, tapi untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, fokus pada ‘bagaimana’ caranya kita bisa mencapai hal tersebut. Manusia itu bisa mencapai segalanya (dalam batas manusia tentunya).

      Katakan : “Bagaimana caranya saya bisa mencapai hal tersebut”, dan bukan “Bisa ngga ya saya mencapai hal tersebut?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s