Jangan Hidup Dulu

Setiap menunggu train yang datang setiap 30 menit, saya biasanya iseng baca-baca berita di beberapa news portal Indonesia melalui handphone. Sekedar ingin tau apa yang sedang terjadi di tanah air, dan kadang-kadang juga bisa mengobati kangen, dengan hanya membaca berita mengenai Indonesia.

Kayanya sekitar minggu lalu, satu berita menarik perhatian saya, judulnya : “Untuk Sementara Jangan Makan Cabai Dulu.” Kalo ngga salah saya baca di mobile site-nya detikcom.
Berita tentang jangan makan cabai dulu, menarik perhatian saya karena buat saya, cabai itu udah kaya garam : makanan hambar tanpa cabai. Bahkan saya inget waktu saya masih SMP, saya membuat poster ukuran A4 yang bertuliskan : “Jangan Lupa Bikin Sambal”, dan saya tempel di dapur rumah, supaya tukang masak ngga pernah tertinggal satu haripun tanpa membuat sambal.

Setelah baca artikelnya lebih lanjut, ternyata perkataan ‘jangan makan cabai dulu’ itu adalah nasihat dari seorang Menteri. Alasannya, kalo masyarakat mengurangi atau ngga makan cabai, nanti restoran akan mengurangi pesanan cabai, dan mungkin harapannya harga cabai akan turun.

“Lebih baik tetap diam, dan lebih baik lagi jangan berpikir, jika anda ngga siap untuk beraksi.” -Annie Besant-

Entah itu ucapan becanda atau ngga, pastinya saya pribadi sebagai masyarakat, mengharapkan solusi yang lebih baik. Anda mungkin berkata : “Itu pendapat subjektif, anda mengganggap solusi itu ngga baik karena anda penggemar cabai.”
Betul, kebanyakan pendapat masyarakat itu subjektif, karena kebanyakan ungkapan spontan dari hati, dan sulit mengatur objektifitas dari ungkapan spontan.

Ada yang lebih buruk lagi akan terjadi, jika anda mengadopsi cara penyelesaian masalah dari harga cabai tersebut.
Misalnya ada yang mengeluh : “Mencari pekerjaan sangat sulit di tengah keadaan ekonomi yang lagi terpuruk.”
Anda akan berkata : “Ya jangan mencari pekerjaan dulu. Nanti kalo semua orang ngga mencari pekerjaan, maka perusahaan-perusahaan akan kekurangan tenaga kerja, nah saat itu anda bisa mulai melamar kerja lagi.”

Setelah anda menasehati hal itu, orang tersebut akan berkata : “Kalo ngga mencari kerja, gimana saya mau makan dan memberi makan keluarga?”
Anda akan berkata lagi : “Ya jangan makan dulu, nanti kalo anda dan keluarga udah ngga makan, maka warung-warung/pasar akan kekurangan pembeli, nah bisa jadi mereka memberi diskon harga besar-besaran, atau malah gratis.”

Orang tersebut berkata kembali : “Kalo ngga makan, gimana saya mau hidup?”
Anda tersenyum, dan dengan menepuk bahu orang tersebut karena anda sudah membantu menemukan solusi yang tepat untuk masalah mencari kerja, anda akan berkata : “Ya jangan hidup dulu….”

Tentunya ga bakal se-ekstrim ini, tapi saya hanya mau mengambil pelajaran aja dari perkataan Annie Besant yang udah saya kutip diatas, bahwa lebih baik anda diam jika belum bisa beraksi. Belum bisa beraksi, dan belum bisa memberi solusi yang baik.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s