Anda Seharusnya Lebih Baik Dari Seekor Bebek

Salah satu perbedaan mencolok yang saya temui saat pertama kali pindah ke KL, adalah budaya antri.
Seburu-buru apapun, misal di pagi hari yang semua orang berbondong-bondong pergi memulai aktivitas, tetep aja antri.

Jadi inget satu kejadian kecil di Indonesia. Waktu itu saya lagi ngantri tiket bioskop, saya lupa filmnya apa, tapi antriannya panjang sekali.
Saat giliran mendekat ke loket, ada ibu-ibu tua yang mendekat dan berkata dengan sok akrab : “Titip tiket ya…”
Bodohnya, saya malah mengiyakan. Lebih karena ngga enak sama si ibu-ibu itu, dan bukannya memikirkan orang-orang yang udah cape antri di belakang saya.

Jadi ada dua kesalahan dalam menerapkan budaya antri ini :

  1. Orang yang diserobot berprinsip “ga enakan”, jadi menerima aja kalo ada yang menyerobot.
  2. Orang yang menyerobot lebih memikirkan dirinya sendiri, dan ga peduli dengan usaha orang lain.

Akhirnya hal ini menjadi lingkaran yang ga ada habisnya. Setiap orang yang diserobot, berpotensi menjadi penyerobot.

Coba sekarang kita liat sisi lain : apa sih untungnya punya sikap atau budaya antri?

Pertama, hal itu terlihat bagus. Semua baris rapi, ga ada teriakan penuh emosi, atau omelan sana sini. Suasana jadi menyenangkan.

Kedua, anda belajar menunggu ‘saatnya’.
Misal anda mengantri tiket kereta, dan kereta akan datang 2 menit lagi. Anda punya 2 pilihan : menyerobot untuk bisa dapet kereta yang akan datang 2 menit lagi, atau mengantri dan anda harus menunggu kereta berikutnya yang datang 30 menit kemudian.
Jika anda memilih untuk mengantri, anda sadar bahwa kereta yang pertama bisa jadi bukan ‘rejeki’ anda, dan anda bersabar untuk kereta kedua yang bisa jadi merupakan ‘rejeki’ anda.

Ketiga, anda belajar peduli pada orang lain. Efek peduli pada orang lain ini besar, jangan dianggap remeh.
Misalnya, ada yang makan dengan kenyang sampai perutnya sakit, sementara tetangganya yang miskin perutnya sakit karena belum makan selama beberapa hari.
Lama kelamaan sikap ngga peduli ini akan memperlebar kesenjangan sosial, yang akibat buruknya ngga bisa saya bayangkan.

Bagaimana cara memulainya?
Saya inget ada kampanye “Bebek aja bisa antri”, tapi keliatannya kampanye ini ngga berhasil. Mungkin karena orang-orang merasa tersinggung dianggep lebih rendah dari bebek, padahal kita seharusnya mau belajar dan mengambil kebaikan dari manapun, sekalipun dari seekor bebek.

Jadi saya rasa, cara terbaik untuk memulainya adalah dari anda yang sedang membaca tulisan ini.
Saya tau godaannya besar, menyerobot untuk memenuhi kepentingan diri anda sendiri, tapi “Bebek aja bisa antri”, kenapa anda ngga? (Ups, maaf kalo saya kembali ke bebek lagi, karena saya ngga bisa cari contoh lain yang lebih mudah untuk dibayangkan 🙂 )

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s