Seandainya Jadi Perang

Tinggal dan mencari rejeki di negara yang sering dimaki-maki oleh sesama sodara setanah air, membuat kebanyakan orang berpendapat bahwa apa yang saya katakan itu subjektif, bahkan sampai mempertanyakan jiwa nasionalisme saya.

“Mana nih nasionalismenya, udah luntur kayanya..”
“Ya jelas aja lo tinggal dan cari duit disana, jadi ga objektif.”
“Ya susah bicara sama antek ma****sia.”

Dan bermacam-macam komen negatif lainnya.
Menarik untuk mengomentari pendapat orang-orang yang mengatakan ‘Ganyang’ dan ‘Perang’.
Coba anda iseng buka google, dan masukan kata kunci ‘cost of war in iraq afghanistan’. Di salah satu artikel USA today, ditulis bahwa biaya perang irak & afghanistan itu akan mencapai 2.4 Trilyun Dollar Amerika. Ngga tau deh berapa kalo diubah ke rupiah, saya aja bingung ngebayangin berapa banyak ‘0’ nya.

“War does not determine who is right – only who is left.”
– Bertrand Russell –

Yang saya mau garis bawahi adalah : perang itu pasti memakan biaya besar.
Kalo mau hemat, apa nanti tentara kita mau diberi bambu runcing aja? Menggunakan pesawat yang sering jatuh? Nanti belum sampai wilayah lawan, eh udah jatuh duluan ke laut.
Makanannya? Biarkan makan dari hutan (kalo ada hutan), minum dari sungai, dan jika luka diobati dengan obat-obatan dari tanaman.

Jika bicara biaya besar untuk perang dan meng-ganyang negara lain, rasanya kok malu dan kurang pantas ya, dimana banyak rakyat Indonesia yang mati kelaparan, bahkan sampai ada yang membunuh diri dan anak-anaknya sendiri akibat beban hidup yang semakin berat.
Makan susah, anak-anak kurang gizi, dan siap menjadi santapan burung bangkai, boro-boro sampai menyekolahkan anak-anaknya, boro-boro memikirkan masa depan yang lebih baik.
Saya ngga bisa lupa tentang berita seorang pemulung yang membawa mayat anak perempuannya di kereta Jakarta. Pemulung itu cerita bahwa anaknya meninggal di gerobak sampah saat dia mengambil sampah, karena udah berhari-hari ngga makan.
Saya minta anda berhenti sejenak, bayangkan, ada seorang anak perempuan usia 3-4 taun, menangis kelaparan diatas gerobak sampah, sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir karena ngga makan. Diatas gerobak sampah.

Jangan buru-buru mengatakan saya antek ma****sia, ya. Saya hanya bermimpi dan ingin kebanyakan orang peduli dulu dengan lingkungan terdekat. Peduli dengan sodara setanah air. Peduli dengan rakyatnya sendiri.
Buat apa ribut berperang, sementara tetangga anda ada yang kelaparan, tetangga di satu RT/RW ada yang kelaparan, tetangga di satu kelurahan ada yang menangis setiap malam karena perutnya sakit menahan lapar.
Seandainya jadi perang, bukankah lebih baik jika biaya perang itu digunakan untuk membantu rakyat miskin untuk bisa makan dulu, memiliki tenaga, kemudian diajari sesuatu agar nantinya bisa mencari duit sendiri?
Saya sih inginnya suara sodara-sodara yang gencar meneriakkan ganyang dan perang ini juga sama atau lebih keras lagi saat meneriakkan perjuangan membantu rakyat yang miskin dan kelaparan.

Bicara tentang budaya. Berapa banyak sih yang anda ketahui tentang budaya Indonesia? Saya ngga yakin ada 3 dari 10 orang menguasai budaya daerahnya sendiri. Kebanyakan justru lupa akan budayanya sendiri.
Masalah pengakuan budaya ini, harusnya menumbuhkan suatu ‘kesadaran berbudaya’, bahwa cara paling baik untuk melestarikan budaya adalah kita sendiri harus melakukannya, menggunakannya. Kalo kita udah melakukan dan menggunakan, maka orang akan mengenali budaya tersebut berasal dari kita.
Saya rasa, kalo budaya bisa berbicara, besar kemungkinan mereka lebih betah tinggal ditempat yang menghargai mereka, sekalipun mereka hanya menjadi tamu, bukan tuan rumah. Mereka ingin digunakan, ingin diperkenalkan, ingin dilestarikan, ingin diwariskan.
Bukan hanya dipajang dan dibiarkan berdebu disatu sudut yang ngga pernah dilirik, apalagi disentuh.

Jadi, perang atau ngga perang? Ganyang atau ngga ganyang?
Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

20 thoughts on “Seandainya Jadi Perang”

  1. Bro,
    I know that you love our country, and you love Allah and our religion even better, and I appreciate the perspective about this “war” idea.
    But consider this :
    You are a poor person that should feed members of your family, you try every way you can to feed them, but you can only feed them once or twice per day.
    Then come along a richer family, then they can feed your children better, and they would take your children better, what would you do ?
    Would you give your children to them easily ?
    What Indonesian fail to see is that, American take the whole Papua island and its resources (gold and metal) inside and leaves nothing but empty hole for us Indonesian, and we just stand still and not give a single comment about it.
    Singapore throw chemical garbage and take away our soil and sand from our country to expand their land, and we also just stand still and give no comments about it.
    So what is wrong ?
    I think there is some dark force behind this, that would like to see the biggest moslem populated country in the world having a war against a moslem country.
    That would make great news wouldn’t it ?
    If moslems fight against their fellow moslem, buying weapons and artileries from non-moslem countries, to kill their brother until moslems are deflated, would that make some party happy, wouldn’t they ?
    (Sorry, but I’m kind of a conspiracy story lover)
    What makes me doesn’t understand is, why would moslem country like Malaysia steal some land from their brother in religion ?
    Don’t they learn that stealing something from others is a great sin in Islam ?
    Don’t they remember, that we helped them to build their land, some of their citizens are also originated from Indonesia.
    To us Indonesian, the idea that Malaysian steal some part of our country or our ancestor culture inheritance is totally unacceptable.
    If it’s ours, it doesn’t matter whether are we going to used it, polished it or even put it in the garbage bin, but until we give it to someone, no one should not claims it as theirs.
    I write this in english (although not proper english), so more people can understand this from the perspective of Indonesian citizen who stay in Indonesia as well.
    I’m sure you have your own share of story from that side, and we do have some too from our side.
    Let’s share it here and make this a mutual discussion.
    So, war or not war ?
    To be or not to be …

    1. Alo bro…
      Point tulisan gw sederhana, mengingat pengetahuan dan ilmu yg terbatas :

      Pertama, duit alokasi perang yg pasti mahal, lbh baik digunakan utk meningkatkan kualitas rakyat, sehingga kita menjadi bangsa dengan kuantitas yang berkualitas.

      Kedua, menyadarkan org utk peduli sama rakyat. Karena berkoar-koar perang mengatas namakan rakyat dan bangsa, tapi sebenernya ga peduli dgn rakyat, adalah perbuatan bodoh dan egois.

      Ketiga, sebagai pengingat agar kita menghargai budaya, mewariskannya. Bukan sekedar ribut, mencetuskan perang untuk meng-claim, dan setelah itu ‘membuang’ atau ‘menelantarkan’ begitu aja.

      Hidup udah rumit dan susah, jgn ditambah perang lagi. Lebih banyak sengsara dibanding untungnya.

      Diluar segala macam hal politik atau konspirasi yang anda sebut, gw sih kembali mikir sederhana aja :
      Kalo mau diliat kuat dari luar, dalamnya dikuatkan dulu.
      Kalo udah solid kekuatannya, siapa yg berani?

    2. Jangan lupa tanah2 yg dibeli atas nama orang lokal tapi sebenarnya dimiliki dan diexploitasi foreigner!

      Tapi Ri, dengan sedih menurut gw negara yg membuat rakyatnya jadi ga nasionalis ya negara kita ini… mo disangkal ato diakui ya seterah

      Jadi apa artinya nasionalisme? apa artinya perang dan ganyang? mo buktikan apa? makmurin rakyat sendiri aja masih menuhin kantong pribadi dulu kok!

      Gw hanya mencintai tanah yg gw pijak, ga lebih ga kurang! pemerintahnya.. go to the sea aja along with toxic snail!

      yg butuh ngerti tulisan gw, bisa pake translatedotgoogledotcom wakakakak

  2. Tetep semangat Rys…
    Asli gw termasuk yg benci negara maling itu, tapi keputusan seseorang untuk tinggal dan bekerja di manapun selayaknya harus dihormati selama pekerjaannya insyaallah halal.
    Kalau berkaca.. SIAPA GUE ngata2in Borrys ini dan itu (in negative way) ttg nasionalisme lah ttg antek lah, blah blah dan huek crot cuih lainnya.. ga ada hak gw ini. Apalagi kalo tyt gw dapet kesempatan kerja jadi expatriat di negara maling itu.. mungkin dengan munafiknya gw bakal merubah sebutan jadi negara surga.. setipis itu kah nasionalisme dan kebencian gw? kalau gw tetep benci dan menolak.. itu lebih munafik lagi.. yaitu menyangkali diri sendiri dan realita.

    Tapi emang sial sih Rys kalo sampe dikata2in kayak gitu.. ga penting banget, tapi tetep aja kayak kerikil dalam sepatu yah :p

    Jadi… tetep semangat Rys…!!

    ps: b.o.t. perang? wahahahahahahahahahahahaha (masih lom kelar ngakak panjang banget sambil nangis) kalo ada bandar taruhannya, gw tarohin seluruh harta gw ke si negara maling.

    1. BTW, om borju and ombot.
      Jangan salah, Indonesia sudah bisa memproduksi bom nasional dengan harga murah.
      Sekali meledak satu RW ancur, dan dengan harga dibawah 20 ribu rupiah sajahh.
      Kode bomnya LPG 3 Kg.
      Hati-hati hanya Indonesia yang bisa begini.

  3. Bro…
    ending2 nya paling cuma untuk ngalihin issue aja kok…
    easy going aja lah..ntar kalo issue yang dimaksud sudah mereda (kita sama2 tahu lah apa itu issue nya:p)..paling2 issue malaysia ini juga hilang kok…
    bukannya ini dah kesekian kalinya issue Ri-Malay yang ending nya cuma untuk ngalihin issue nasional aja :p

    1. Terus sayang saya ngga tau apa yang bener-bener terjadi.
      Kemarin baca tulisan orang, katanya ttg Tari Pendet itu, bukan diclaim secara legal oleh Malay, tapi berdasarkan liputan oleh Discovery Channel.
      Nah, kalo saya liatnya dari sisi kenapa Discovery Channel sampe melihat Tari Pendet ini seolah2 milik Malaysia, dan bukannya Indonesia? Jangan2 karena di Indo ngga terlihat pelestarian budaya ini. Itulah kenapa tulisan ini mengajak orang Indo untuk sadar budaya dan melestarikannya.

      Kira2 ada yang punya link artikel/video ngga ttg claim budaya ini? Saya masih mencari2, bukan untuk memperkeruh keadaan, tapi untuk kejelasan. Karena saya ngga mau mendasarkan pendapat saya tanpa bukti πŸ™‚

      Apapun yang terjadi, saya selalu berharap Indonesia bisa jauh lebih baik dari sekarang, dicintai rakyatnya sendiri dan dihormati bangsa-bangsa lain.
      Amin.

    1. Inget dulu bo..
      Ketika pertama mau perang buat mindahin isyu naik BBM, yg kedua gw lupa lagi isyunya.
      Yang ketiga kayaknya krn menerjang Yusril masih belum cukup buat menenggelamkan isyu kasus Century.

  4. Yg jelas kalau terjadi perang…….kasihan saodara saya yg mengais rezeky disana (di negeri Jiran)…nasibnya bagaimana? Yg jelas mereka jadi sasaran tembak pertama yg paling empuk?…
    Pls deh…jangan perang ya?……pikir yg matang ya?

    1. Kalo perang, bs jd macem2 skenarionya.
      Salah satunya, karena orang-orang Indo disini tenaganya diperlukan, bisa jadi mereka ditawari jadi Warga Negara.
      Jadinya yg rugi ya Indonesia juga, kehilangan pahlawan devisa πŸ™‚

  5. Orang Indonesia yang kelaparan….pilihannya:
    – Ikut perang karena rasa nasionalisme (atau dibayar oleh orang yang mengaku nasionalis, cari muka sebelum Pemilu)
    – Diem aja karena gak tau harus apa
    – Angkat senjata ikut membunuh orang Indonesia juga (yang satu ini gak mau disebut nasionalismenya luntur, tapi sebut aja orang miskin yang terpaksa membunuh karena kepepet ekonomi, di jalan ketemu sama orang Malaysia yg berani bayar mahal untuk satu kepala orang Indonesia)
    – Ikut jadi TKI (ngabur ke negara orang, cari aman, demi masa depan anak-anak, gak peduli harga diri bangsa terinjak ato bangsa kita menginjak harga diri negara tetangga, yang penting dapur ngebul)

    Catatan:
    – Bila Indonesia jadi konfrontasi dengan Malaysia, setidaknya akan memunculkan isme dan pahlawan baru, menimbulkan berita baru (terutama ‘pihak-pihak’ yang senang lihat sesama negara muslim berperang).
    – Harga diri tidak melihat laparnya perut, pembunuhan akan menjadi kepuasan mutlak, lapar mah jadi nomer dua…..

  6. Tenang bro, anjing menggonggong badai pasti berlalu πŸ˜€

    Bicara soal perang, konon katanya demi harga diri. Kalo bicara soal harga diri, masa pake itung untung rugi? Bukannya itu prinsip ekonomi??
    Contohnya ketika aku merasa harga diri diinjak dan udah tak bisa ditolerir, maka tanpa mikirin untung-rugi akan saya tikam si penginjak. Tapi kalo mikir untung rugi, tho akhirnya balik lagi: batal alias ga jadi.

    Dimana-mana yang nginjak harga diri itu pasti punya sesuatu yang LEBIH, dan yang diinjak pasti lebih rendah. Ga terima? Coba nalar deh..

    Jadi biar ga dianggap lebih rendah (entah edukasinya, martabatnya, ato apapun), jgn merasa rendah diri. Dalam konteks masalah Indonesia dan Malaysia, saya sih merasa yang ngamuk2 itu orang yang bodoh! (entah kurang sekolah atau kurang diajar)

    Mo ganyang Malaysia tapi “I Love AirAsia” πŸ˜€
    Benci Malaysia, tapi beli sepatu Vinnci? Mobilnya Protos? Minum klorofil buatan K-Link? dan 1001 produk lain yang Made in Malaysia? Wake up deh sebelum teriak ganyang Malaysia. Udah nasib Indonesia ga punya harga diri, soalnya emang kenyataannya begitu kok.

    Untuk masyarakat secara luas, mana perbuatan yang mencerminkan Nasionalisme dan cinta akan tanah air Indonesia?
    Sampe PSK aza doyannya yang impor! Lha gimana dengan PSK lokal? Yah duitnya aza yang ga cukup buat nyicip yang impor, makanya lokalan aza..

    Indonesia.. Indonesia.. Yang kita bicarakan sebenarnya Nasionalisme atau tidak punya kesempatan? Nasionalisme atau tidak punya keberanian?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s