Merubah Diri Anda Lebih Sulit Daripada Merubah Orang Lain

Hari ini saya baca status temen tentang satu kejadian di Medan. Taxi Bluebird mau mulai beroperasi disana, dan didemo sama supir taxi-taxi lainnya. Mirip kejadian di Bandung beberapa taun lalu, bahkan waktu itu taxi-taxi Bluebird sampe dilempari batu.
Salah satu alasan kuatnya : takut pendapatan mereka berkurang, karena orang lain cenderung memilih Bluebird.

Banyak orang (terutamanya penumpang) yang protes : “Aneh banget sih supir-supir taxi yang lain, bukannya mikir kenyamanan penumpang, bukannya mikir gimana supaya bersaing positif dan meningkatkan mutu mereka, supaya bisa bersaing dengan Bluebird…”

Ya sebagai penumpang, kita pastinya setuju dengan adanya Bluebird, dan sebel dengan sikap para supir-supir taxi lainnya. Tapi, sikap seperti supir-supir taxi ini juga sering kita dapati dimana-mana : tempat kerja, lingkungan rumah, keluarga dekat, bahkan diri kita sendiri.
Sikap ngga mau menerima perubahan yang membawa kebaikan, dan cenderung memilih keadaan yang ‘begini-begini aja’, karena satu dan seribu macam alasan lainnya.

“Berkembang artinya berubah, dan berubah pasti beresiko : melangkah dari sesuatu yang kita ketahui, kepada sesuatu yang tidak kita ketahui.”

Saya ambil contoh kejadian di kantor saya.
Sejak berabad-abad (ok bukan berabad-abad, bertaun-taun… 😀 ), udah ada satu proses di Departemen Product Development yang dijalani dengan nyaman oleh para eksekutifnya. Kemudian mulai taun 2009, diperkenalkan langkah tambahan didalam proses yang udah mereka jalani dengan nyaman tersebut.

Langkah tambahan ini bisa menyelamatkan banyak hal, terutama biaya dan jumlah pelanggan. Kalo jumlah pelanggan besar, bisa dipastikan duit pun mengalir masuk. Tapi, kebanyakan eksekutif itu hanya melihat langkah tambahan ini sebagai beban, sebagai pengganggu kenyamanan mereka, tanpa mau melihat efek jangka panjangnya.
Akibatnya pelaksanaan langkah tambahan ini pun mandek, dan seringkali dilewati begitu aja oleh para eksekutifnya. Mereka tetep menjalani proses lama yang seringkali membuat kerugian : pendapatan rendah dan produk gagal, akhirnya produk harus ditarik dari pasar karena penggunanya hanya sedikit.

Kadang, malah seringkali, ketidakmauan kita berubah, adalah karena ego dan gengsi. Padahal, jika suatu perubahan itu baik, kita hanya mengorbankan ego/gengsi untuk beberapa detik, tapi bisa menyelamatkan banyak hal dikemudian hari. Jauh lebih baik dibanding mempertahankan ego/gengsi tapi celaka dikemudian hari.
Merubah diri sendiri lebih sulit daripada merubah orang lain. Coba mulai dari diri anda sendiri : mau menerima perubahan jika itu membawa kebaikan, sekalipun ego/gengsi anda harus dikorbankan untuk beberapa saat, dan rasakan sendiri bagaimana anda berkembang baik dari sisi kepribadian dan pengetahuan.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

Satu tanggapan untuk “Merubah Diri Anda Lebih Sulit Daripada Merubah Orang Lain”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s