Bukan Sekedar Daging Yang Bernafas

Beberapa hari yang lalu temen saya ada yang bertanya “Gimana membedakan bahwa sesuatu itu ambisi atau keinginan?”
“Kenapa harus dibedakan?” saya balik tanya.
Dia bercerita bahwa dia yakin bisa mencapai sesuatu, tapi bagaimana memastikan bahwa sesuatu itu memang bener bisa dicapai?
Pertanyaan memastikan sesuatu bisa dicapai, jawabannya singkat : ngga bisa dipastikan.
Hey, tunggu dulu! Kalo pencapaian sesuatu ngga bisa dipastikan, apa berarti semua bergantung pada keberuntungan?
Bukan. Anda ngga bisa memastikan sesuatu bisa tercapai. Yang bisa anda lakukan hanyalah memperbesar kemungkinan agar sesuatu itu bisa dicapai.
Bagaimana caranya memperbesar kemungkinan? Dengan melakukan sesuatu yang lebih.

Saya mau cerita pengalaman saya dalam melamar kerja.
Resume adalah tiket pertama yang penting agar seseorang mendapat kesempatan untuk maju ke tahap selanjutnya, biasanya interview awal.
Bisa jadi 1000 orang lainnya mengirim resume yang mirip, bentuk resume yang bisa didapat dengan mencari di internet.
Semuanya berbentuk dokumen.
Saya mencoba yang lain. Saya buat sebuah blog sebagai resume saya, dan komen pertama dari Direktur perusahaan tersebut adalah “Resumenya menarik.”

Apa jika saya membuat resume yang mirip dengan 1000 orang lainnya, saya bakal tetep maju ke tahap berikutnya? Bisa ya, bisa ngga.
Tapi membuat sesuatu yang lebih dari orang lain, membuat kemungkinan saya lebih besar.
Dan hal ini seringkali berhasil, saya saksi hidup dari prinsip ini.

“Seorang manusia tanpa ambisi itu mati. Seorang manusia dengan ambisi tapi tanpa rasa sayang juga mati. Seseorang dengan ambisi dan rasa sayang, itu yang benar-benar hidup.” – Pearl Bailey –

Pertanyaan pertama dari temen saya belum terjawab. Apa beda ambisi dan keinginan?
Menurut salah satu definisi kamus, ambisi itu kemauan untuk bekerja keras dalam mencapai sesuatu.
Jadi yang pertama, harus ada yang mau dicapai dulu.
“Saya ingin mendapat kerja yang lebih baik.”
“Saya ingin mendapat penghasilan lebih.”
“Saya ingin menjadi orang yang lebih baik dalam mengatur waktu.”

Ini baru tahap keinginan.
Bagaimana mencapainya? Anda membutuhkan ambisi.
Banyak orang mengaitkan ambisi dengan hal negatif. Menurut saya, kalo ngga ada ambisi, anda mungkin bakal memilih untuk mati detik ini juga. Mungkin tingkat ambisinya kecil, tapi itu hal yang membuat anda masih mau menjalani hidup.
Yang negatif adalah jika anda terlalu ambisi, dan melakukan segala cara, termasuk merugikan orang lain, demi mencapai apa yang anda inginkan.

Jadi, kalo anda merasa ‘ngotot’ untuk mencapai sesuatu, tandanya anda memiliki ambisi. Dan itu berarti anda masih hidup. Hidup yang sebenarnya, bukan sekedar seonggok daging yang bernafas.
Hanya jangan lupa tentang orang lain. Jangan merugikan orang lain.

Bagaimana menurut anda?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s