Nomor Antrian Untuk Berbuat Baik

Kemarin saya baca artikel yang bikin saya menghela nafas beberapa kali: Para Turis dari Seluruh Dunia Kecam Pemerasan di Besakih.
Ada satu komen yang menarik dari pembaca: “Kok gini bgt ya mental bangsa kita, gak dari pejabat sampe rakyat (sigh)

Gak pejabat sampe rakyat. Berarti itu (hampir) semua orang, bukan?
Apa jawaban Anda kalau ditanya kenapa bisa mental bangsa kita seperti itu, dari mulai pejabat sampe rakyat?

Saya mau cerita hal lain dulu, hal yang bisa jadi lebih sederhana dan lebih keliatan: masalah membuang sampah.

Cerita pertama. Pernah saya naik mobil kerabat, dan ada salah satu keponakan yang membuang bekas makanan/minuman ke karpet mobil yang terbuat dari karet. Reaksi yang empunya mobil adalah mengambil bekas makanan/minuman tersebut, kemudian membuangnya ke luar jendela.
Cerita kedua. Saat menegur salah satu teman karena membuang sampah sembarangan di pinggir jalan, reaksinya adalah menjawab bahwa pemerintah harusnya menyediakan tempat sampah dimana-mana sehingga rakyat bisa membuang sampah pada tempatnya.

Apa yang bisa disimpulkan dari dua cerita diatas?
Yang pertama adalah kurangnya empati terhadap orang lain dan lingkungan. Yang kedua adalah kesenangan menunggu orang lain dulu untuk berbuat kebaikan.

Ubah pikiran Anda, dan Anda akan mengubah dunia. -Norman Vincent Peale

Kembali ke kasus pemerasan di Besakih. Orang-orang yang melakukan pemerasan itu sama dengan ‘membunuh’ dirinya sendiri dan orang disekitarnya yang menggantungkan mata pencaharian dari turis yang datang.
Orang-orang banyak membicarakan keburukan di Besakih, dan dengan kemajuan internet + social media, kabar buruk menyebar 1000 kali lebih cepat.
Sama dengan mental cerita pertama, kurangnya empati terhadap orang lain dan lingkungan, sehingga yang dipikirkan hanya ‘aku’ dan saat ini.

Bagaimana cara mengubahnya?
Mengubah pikiran adalah salah satu hal tersulit didunia, kalau tidak ingin dikatakan mustahil.
Terlalu banyak aspek yang mempengaruhi perubahan pikiran ini, dan seringkali aspek harga diri membuat orang tidak akan mengubah pikirannya meskipun perubahan itu baik.

Jadi, bagaimana memulainya? Caranya adalah dengan jangan mengambil nomor antrian untuk berbuat baik.
Mulai dengan mengubah pikiran Anda sendiri. Jangan menggantungkan kebaikan Anda pada kebaikan atau keburukan orang lain.

Jangan mengambil nomor antrian untuk berbuat baik.
Mulai dengan mengubah pikiran Anda sendiri. Jangan menggantungkan kebaikan Anda pada kebaikan atau keburukan orang lain. -Borrys Hasian

Melakukan suatu kebaikan akan selalu melalui tantangan. Tantangan terberat adalah melawan dorongan negatif dari dalam diri Anda sendiri. Tapi jika Anda berhasil mengalahkan dorongan negatif ini, jika setiap orang, dari pejabat sampai rakyat, menghindari nomor antrian untuk berbuat baik, jangan kaget jika bangsa kita bisa tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang hebat.

Bagaimana menurut Anda?

Salam Insan Super!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

2 tanggapan untuk “Nomor Antrian Untuk Berbuat Baik”

  1. SETUJU! Semua harus dimulai dari kita! Kadang kita sebagai rakyat sok teriak “Gimana sih nih pemerintah!”, tapi sadar nggak sadar kita sendiri masih “GITU2!” aja.:D

    Tapi emang sih Rys, dengan tinggal negeri orang bisa membuat kita makin sadar, iya yah harus kita nya jua yang sadar menjaga lingkungan, itu kalau emang mau bener. πŸ˜€

  2. Idealnya emang semua (dari pemerintah sampe rakyat) saling bantu buat kebaikan, tapi jarang sekali ada keadaan ideal. Khususnya buat di Indonesia, masing-masing individunya yang harus duluan berbuat baik, paling ngga buat diri sendiri.
    Siap dimulai dengan dirimu, Rie? πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s