Badut Sirkus

Suatu hari, ada seorang badut bernama Jojo yang sangat menyukai pekerjaannya di sebuah rombongan sirkus. Dia sangat menikmati perjalanan dari satu kota ke kota lain, bertemu banyak orang dan anak kecil, membuat orang lain tertawa dan bahagia. Suatu hari, entah kenapa, dia merasa murung. Akibat murung, diapun kehilangan keahliannya untuk membuat orang lain tertawa dan bahagia. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk melepas baju badutnya, dan pergi ke kota secara diam-diam. “Pekerjaan badut itu membosankan, dan saya udah ngga lucu lagi,” pikir si badut itu.

Sesampainya di kota, dia menuju suatu rumah makan. Rumah makan itu ramai sekali, kebetulan sedang waktu makan siang. Dia berusaha mencari meja kosong, tapi semuanya penuh, sampai matanya tertuju ke meja dengan dua kursi, yang salah satu kursinya ditempati oleh seorang bapak setengah baya. Karena sudah lapar, diapun mendekati meja tersebut. “Boleh saya duduk di tempat ini?” tanya Jojo. Bapak itu mengangkat kepalanya dengan perlahan, dan mengangguk pelan. Jojo pun segera duduk.

Bapak yang duduk dihadapannya itu terlihat letih, dengan mata yang bengkak. Suasana ramai disekitarnya sangat berbeda dengan pandangan matanya yang kosong, sepi. Jojo, yang sudah terbiasa berbicara dengan orang banyak, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. “Kenapa Bapak sedih?” tanya Jojo dengan senyum khasnya. Bapak itu hanya tersenyum kecil, menatap Jojo beberapa saat, kemudian kembali menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang dia pegang di tangan kanannya. “Apa itu ya?” tanya Jojo dalam hati, sambil mencoba mencuri pandang. Benda itu terlihat seperti selembar kertas. Rasa penasaran Jojo terputus oleh suara pelayan yang membawakan makanan pesanan Jojo, “Ayam bakar special dengan Jus Mangga datang…” kata si pelayan dengan senyum ramah.

Lupa dengan rasa ingin tahunya, Jojo pun segera meminum Jus Mangga pesanannya. Baru beberapa saat dia minum, bapak setengah baya itu berkata dengan lirih “…anak saya.” Dia menghela nafas, diam sejenak, kemudian melanjutkan “Seharusnya minggu ini adalah minggu yang paling menyenangkan untuknya. Sirkus baru saja datang ke kota ini, dan dia ngga sabar untuk pergi. Kalau saja…” bapak itu tidak kuasa berkata-kata lagi, air matanya mengalir, dan di wajahnya terlihat kesedihan yang mendalam.
Ternyata anak perempuan bapak itu baru saja meninggal akibat suatu penyakit. Bapak itu bercerita bahwa anaknya sangat bersemangat ketika mengetahui bahwa rombongan sirkus akan datang ke kota mereka. “Saya mau ketemu badutnya, pasti dia lucu sekali,” kenang si Bapak, menirukan ucapan bahagia anak perempuannya ketika masih hidup, kemudian dia memperlihatkan foto yang dia pegang kepada Jojo.

Jojo merenung. Ternyata badut sirkus, kerjaan yang dia anggap membosankan, bisa membawa kegembiraan, memberi semangat hidup kepada seorang anak manusia yang usianya sudah di ambang ajal. Meskipun akhirnya si anak meninggal, tapi badut sirkus memberinya harapan untuk bisa merasakan kebahagiaan. Sejak saat itu, Jojo kembali menjadi badut sirkus. Dia yakin bahwa dunia selalu menunggu manusia untuk bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Untuk Jojo, hal itu adalah membuat orang lain bahagia dan tertawa.

note: Cerita fiktif diatas saya tulis setelah ada seorang kawan yang bercerita bahwa dia sangat bosan dengan pekerjaan yang dia lakukan 🙂

Salam Insan Super!
Borrys Hasian

Iklan

Diterbitkan oleh

Borrys Hasian

UX Designer. Simplicity. Improving people's lives, one interface at a time.

8 tanggapan untuk “Badut Sirkus”

  1. Konon berpikir ‘mengabdilah pada hal yang kamu suka, jangan pada pekerjaanmu’, bisa sedikit melecut kebosanan melakukan rutinitas pekerjaan. Saya kira ini benar Om. Selagi masih ada “adreanalin”, mengabdi pada hal yang kita suka akan menemukan tantangan baru, kegembiraan baru, bahkan mungkin kepedihan baru. Itulah seninya, seni mengabdi pada hal yang kita suka. Bagaimana –misalnya– Bon Jovi yang suka bermusik akhirnya mendapatkan kegembiraan dengan mendapatkan penghasilan dari hal menyenangkan yang dia sukai. Pekerjaan itu akan menyenangkan ketika searah dengan panggilan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s