Percaya Diri Itu Gampang

Banyak orang percaya bahwa memiliki kepercayaan diri adalah salah satu kunci sukses dalam bidang apapun.
Banyak artikel dan buku mengenai membangun kepercayaan diri, tapi masih banyak orang yang kesulitan membangun kepercayaan diri.

Pernah di suatu rapat, saya perhatikan ada satu orang yang terlihat sangat percaya diri. Dari cara bicara dan interaksinya, terlihat sekali betapa dia sangat percaya diri.
Saat itu saya bertanya-tanya: “Gimana caranya bisa seperti itu?” Lanjutkan membaca Percaya Diri Itu Gampang

Iklan

Undangan Untuk Menyerang

Beberapa hari lalu di kantor saya sempet ada drama di pagi hari. Seorang direktur ribut dengan staf nya, dan kata-kata yang paling saya inget keluar dari direktur itu adalah “I’m your Boss..!”. Setelah ribut berakhir, masing-masing kembali ke mejanya dengan muka cemberut.

Dua hari lalu saya juga mendapat ‘undangan’ untuk menyerang.
Kami sedang mengerjakan suatu proyek software untuk konsumer di Singapore dengan waktu yang cukup singkat, sekitar 3 bulan. Bagian saya, software design, harus diselesaikan dalam waktu 14 hari.
Yang jadi masalah, management dari proyek itu selalu punya ide untuk merubah atau menambah design yang udah ada. Setelah beberapa kali perubahan disana sini, akhirnya mereka mengatakan “Ini perubahan terakhir, final, setelah itu kami akan approve design nya.”

Sesuatu yang membuat lega, hanya masalah waktu yang ngga tepat: perubahan itu diminta dilakukan dalam dua hari sebelum orang-orang pada cuti akhir taun.
Hal itu menjadi lebih sulit lagi, karena product manager ternyata sudah cuti ke Swedia.
Biasanya product manager yang akan membuat daftar perubahan, dan saya bagian design nya. Karena dia sudah cuti, akhirnya saya yang membuat daftar perubahan, dan ternyata setelah komentar para management diubah ke daftar perubahan, itu bukan perubahan yang sedikit. Kerja dua hari bisa dilakukan, kalo saya kerja ekstra di luar 8 jam.

Kerja ekstra pun saya lakukan. Pas di hari kedua, jam 6 sore, saya masih mengerjakan dua halaman terakhir, ada email masuk dari Product Manager, dan dia mengatakan “Aneh, kok bisa perubahan seperti itu memakan waktu lama?”
Detik itu juga saya terdiam. Dalam pikiran saya, beberapa pilihan reaksi muncul.
Yang pertama, membalas emailnya dengan sinis, menyindir bahwa dia bisa enak liburan di Swedia sementara saya kerja, dan mengatakan bahwa dia ngga tau apa-apa tentang design.
Pilihan kedua yang muncul, adalah saya tetep terus kerja mengejar dua halaman terakhir itu, kemudian membalas emailnya dengan lampiran design terakhir dan daftar perubahan yang harus dibuat selama dua hari itu. Dan tidak menyinggung atau membalas sedikitpun komentar sinis orang tersebut.

“Dengan cara yang lembut, Anda bisa mengguncang dunia.” -Gandhi

Jika Anda jadi saya, pilihan mana yang Anda pilih?
Buat saya, pilihan pertama sedemikian kuatnya, sehingga saya hampir memilih untuk menyambut undangannya untuk menyerang. Tapi akhirnya saya memilih pilihan kedua.
Saya inget kata-kata Gandhi yang kurang lebih seperti ini: “Dengan cara yang lembut, Anda bisa mengguncang dunia.”

Beberapa jam setelah saya mengirim email yang berisi design terakhir, tanpa kata-kata yang menyerang, saya mendapat email balasan dari Direktur department saya yang mengatakan bahwa mengerjakan design itu dalam dua hari itu sesuatu yang luar biasa. Management pun puas dengan design terakhir itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, selalu aja ada ‘undangan’ untuk ‘menyerang’. Ada orang yang memotong antrian, Anda diundang untuk kesel. Di atas kereta ada orang yang main seruduk, Anda juga diundang untuk sewot. Di tempat makan, ada pelayan yang melayani anda dengan kesal, seolah-olah Anda berbuat salah dengan bertanya tentang suatu menu, Anda juga diundang juga untuk menyerang.

Dalam salah satu situasi yang mengundang untuk menyerang seperti itu, coba Anda pilih untuk bersikap ‘lembut’, senyum, dan fokus pada tujuan/kerja Anda.
Somehow, pilihan untuk ‘tidak menyerang’ bisa membawa kebaikan, dan siapa tau kebaikan itu bisa membawa anda melangkah jauh dari posisi anda yang sekarang.

Bagaimana pendapat Anda?

Salam Insan Super!
Borrys Hasian

Jebakan Untuk Menjadi Yang Paling Pintar

Suatu saat perusahaan saya mengadakan training yang berhubungan dengan Human Computer Interaction (HCI).
Salah satu implementasi penting dari ilmu HCI adalah produk/layanan yang dibuat bisa sedemikian mudahnya digunakan oleh pelanggan, yang ujung-ujungnya membuat pelanggan menjadi pelanggan setia dan ngga keberatan membayar untuk produk/layanan yang disediakan.

Karena praktisi HCI di perusahaan kami hanya 3 orang (termasuk saya), dan kami kewalahan menangani produk/layanan yang sedemikian banyaknya, akhirnya diadakanlah training untuk beberapa orang kunci yang berhubungan langsung dengan management produk/layanan, dengan harapan paling ngga mereka mengerti dasar dari HCI ini, dan bisa menerapkannya ketika tim kami yang 3 orang ngga bisa ikut serta dalam suatu project.

Training itu diadakan selama tiga hari penuh, dan saya ikut sebagai peserta, yang bertugas untuk membimbing dan mengawasi.

Saat mengikuti training ini, betapa godaan untuk Lanjutkan membaca Jebakan Untuk Menjadi Yang Paling Pintar

Usul Yang Baik, Tapi Kami Belum Siap…

Satu hal di kantor yang membuat saya ngga suka (kalo bukan dikatakan benci) adalah sesuatu yang seharusnya bisa dibuat lebih baik, tapi ngga terlaksana karena orang yang mengerjakannya mau ambil gampang dan cepat.
Yang lebih membuat kesal lagi, orang tersebut tahu bahwa yang dikerjakannya itu kurang, malah ngga baik, tapi juga tetep dikerjakan. Aneh.

Tapi setelah beberapa kali melewati hal yang sama, mendengar orang-orang mengatakan “Itu usul yang baik, tapi kami belum siap,” sebagai alasan supaya ngga mau repot, akhirnya saya jadi ‘ngga peduli’ lagi.
Bukan ngga peduli dengan perusahaan, tapi saya ngga ambil ke hati, ngga kesel seperti dulu-dulu. Mereka yang rugi ini. Kalo kebanyakan kesel, malah jadi penyakit buat diri sendiri.

Untuk setiap menit anda merasa kesal/marah, anda kehilangan 60 detik kebahagiaan.

Anehnya, setelah saya menerapkan sikap ‘ngga kesel, mereka yang rugi ini’, orang-orang ini malah Lanjutkan membaca Usul Yang Baik, Tapi Kami Belum Siap…

Salah Satu Salesman Terbaik Ada Di Bawah Hidung Anda

Apakah anda seorang karyawan, pebisnis, atau di kehidupan sehari-hari sekalipun, kemampuan menjual itu penting.

Sebagai karyawan, anda menjual ide atau usulan, dan pembelinya adalah rekan kerja atau bos anda.

Jika anda seorang bapak, anda juga ‘menjual’ pikiran anda, dan anak anda ‘membeli’ nya. Misalnya anda ingin mendidik anak anda untuk membiasakan diri teratur, meletakkan barang pada tempatnya. Anda harus berusaha ‘menjual’ ide/pikiran bahwa teratur itu baik untuk diri mereka sendiri, dan jika anak anda ‘membeli’ pikiran tersebut, mereka akan melaksanakan hal tersebut, meletakkan barang pada tempatnya.

Untuk pebisnis, menjual lebih jelas lagi. Anda menjual barang atau jasa kepada pelanggan.

“Setiap orang hidup dengan menjual sesuatu.” -Robert Louis Stevenson-

Bagaimana anda bisa belajar menjadi penjual/salesman yang baik? Cara paling efektif, adalah belajar langsung dari salesman terbaik. Dimana anda bisa menemukan salesman terbaik?

Ini pengalaman saya Lanjutkan membaca Salah Satu Salesman Terbaik Ada Di Bawah Hidung Anda

Jika Ingin Didengar Tapi Suara Anda Ngga Sekeras Singa


Jika Anda berada di tengah 1500 orang, bagaimana cara supaya Anda bisa didengar? Berteriak?
Kecuali anda memiliki suara sekeras singa, cara yang paling efektif adalah menggunakan speaker.
Di jaman internet seperti sekarang, ada speaker bentuk lain yang bisa anda gunakan dengan lebih efektif : e-mail. Saya punya satu cerita tentang menggunakan e-mail sebagai speaker.

Tahun 2008. Saya merasakan penolakan terang-terangan. Suatu perusahaan mencari 3 orang yang ahli di bidang ‘Usability, Interaction, & Experience Design’ (jika anda bingung dengan bidang apa ini, jangan peduli dengan term yang digunakan), dan saya dianggap ngga memenuhi syarat oleh direkturnya yang orang Eropa.

Tapi 2 bulan kemudian, Lanjutkan membaca Jika Ingin Didengar Tapi Suara Anda Ngga Sekeras Singa

Seandainya CEO Perusahaan Anda Adalah Anak Sekolah Dasar


Sebagai manusia, kita cenderung menginginkan lebih, peningkatan dari apa yang kita miliki sekarang. Begitu juga untuk urusan karir. (Hampir) semua orang menginginkan naik jabatan, mendapat tanggung jawab lebih.

Suatu hari, ada teman yang cerita, bahwa dia berharap bisa naik jabatan, mendapat tanggung jawab lebih. Dia berkata bahwa mayoritas orang menilai dia udah memiliki kinerja baik, tapi minoritas menilai masih kurang. Minoritas yang dia maksud adalah para bos.

Kemudian saya beri perandaian : “Kalo misalnya kamu diberi soal matematika :

x+5=4, berapa nilai x?

bagaimana menurutmu jika seorang anak Sekolah Dasar dan seorang anak kuliah melihat Anda menyelesaikan soal tersebut?” Lanjutkan membaca Seandainya CEO Perusahaan Anda Adalah Anak Sekolah Dasar