Sulitnya Menahan Marah

Meledak untuk marah itu paling gampang dilakukan, tapi menahan untuk tidak marah, malah bisa tersenyum dan tetap berbicara dengan baik, itu sulitnya bukan main. Pikiran anda harus selalu selangkah didepan emosi. Salah satu caranya adalah ketika marah sudah di ubun-ubun, tarik nafas panjang dan paksa untuk tersenyum disaat Anda membuang nafas, dan mohon ampun kepada ALLAH di dalam hati. Ingat, yang paling hebat itu bukan orang yang selalu menang di setiap pertempuran. Yang paling hebat itu orang yang bisa menahan dirinya ketika ada kesempatan untuk marah.

Iklan

Bukan Putus Asa

Jika Anda memiliki tujuan/mimpi, dan anda berusaha dengan segala cara (yang baik tentunya) untuk meraihnya, beberapa orang pesimis akan mengatakan Anda seorang yang putus asa, seperti ngga ada hal lain yang bisa diraih. Ngga masalah Anda terlihat seperti orang yang putus asa, mencoba terus menerus untuk meraih tujuan/mimpi Anda. Dalam prosesnya, Anda akan belajar banyak, terutama tentang bagaimana memperbaiki diri Anda untuk bisa meraih tujuan/mimpi tersebut. Jangan terlalu pusing dengan sebutan ‘orang putus asa’, karena kegigihan dan pencapaian tujuan/mimpi Anda, akan berbicara lebih kuat dari omongan atau anggapan orang tentang Anda.

Jika Anda Mencoba Lebih Keras, Hal Itu Akan Menjadi Lebih Mudah

Suatu ketika saya berada di kelas kursus bahas Inggris, dengan pengajar native speaker, namanya Bill, yang tidak terlalu bisa bahasa Indonesia. Masing-masing dari kami diminta untuk bercerita tentang apa saja selama 2-3 menit. Giliran saya pun tiba, dan saya terdiam selama beberapa saat, mencoba merangkai kata yang benar dalam bahasa Inggris. Melihat saya ragu, Bill kemudian berkata “If you try harder, it will become easier.” Jika anda mencoba lebih keras, hal itu akan menjadi lebih mudah.

Itu kira-kira 15 tahun yang lalu, tapi kata-kata itu masih saya ingat sampai sekarang, karena dia beberapa kali membantu saya melewati masa-masa sulit. Saat menghadapi keadaan yang mengancam, naluri kita berkata untuk menyelamatkan diri, hal ini sudah terbentuk sejak ribuan tahun lalu di otak manusia. Saat nenek moyang kita melihat binatang buas, pertanyaan pertama yang ada di otak adalah “Apakah dia akan membunuh saya?”

Dalam dunia modern, binatang buas-atau kita sebut ancaman, muncul dalam berbagai bentuk. Dalam dunia kerja, ada pekerjaan yang sulit dan kita rasa akan mengancam karir, ada juga bos yang sulit, dan membuat kita meragukan kemampuan kita dalam menyelesaikan pekerjaan, dan berbagai macam bentuk ancaman lainnya. Sama halnya dengan kehidupan sehari-hari, selalu ada hal yang membuat kita merasa terancam dan ingin lari.

Saya beberapa kali menghadapi keadaan semacam itu, dan nasihat “If you try harder, it will become easier,” membantu saya mengatasi ancaman dan keraguan tersebut. Saat anda merasa ingin berhenti atau lari, coba paksa dan dorong diri anda untuk melewatinya selama satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun. Dorongan naluri yang impulsif akan membujuk anda untuk berhenti dan lari dari ancaman, tapi hal itu seringkali tidak akan membantu anda untuk berkembang. Untuk berkembang dan maju ke depan, anda harus menjadi lebih dari apa yang anda miliki sekarang, mencoba lebih keras, dan segalanya akan menjadi lebih mudah. “If you try harder, it will become eaiser.”

Anda Tidak Akan Pernah Menjadi Bos Dengan Mental Seperti Ini

Kenapa banyak orang beranggapan kalau jadi bos itu enak? Ada yang bilang karena tinggal suruh anak buah mengerjakan sesuatu, dan bisa lebih santai dengan gaji yang lebih tinggi. Bagian gaji lebih tinggi nya betul, tapi tinggal suruh dan lebih santai? Rasanya tidak, paling tidak berdasarkan pengamatan saya sendiri.

Walaupun belum jadi bos, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri rapat strategik perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Perusahaan dengan pendapatan sekitar 20 Trilyun Rupiah, dan total karyawan diatas 10.000 di seluruh dunia. Rapat strategik tersebut dihadiri sekitar 50 orang kunci, untuk brainstorm dan memformulasikan strategi perusahaan tiga tahun ke depan. Jelas kebanyakan dari mereka adalah bos beneran. Apa yang saya pelajari dari mereka? Para bos adalah orang yang ‘hidup mati’ nya untuk perusahaan dan bekerja lebih keras dari orang-orang lain di perusahaan. Betul bahwa gaji mereka lebih tinngi, tapi untuk ‘tinggal suruh anak buah’? Otak mereka diperas berpuluh kali lipat untuk bisa muncul dengan daftar ‘suruhan’. Lebih santai? Itu mungkin hanya ada di sinetron.

Jangan tertipu dengan apa yang terlihat di permukaan. Para bos terlihat santai, karena itu salah satu kualitas penting yang harus dimiliki pemimpin. Kalau para bos selalu terlihat penuh ketegangan, bisa bayangkan efeknya terhadap anak buah dan kinerja perusahaan secara umum? Ada lagi yang penting, mental ‘wah kalau jadi bos sih enak’ itu berbahaya untuk karir kita. Bisa jadi itu pertanda bahwa kita malas, tidak bersyukur, atau mau cari gampangnya. Dengan mental seperti ini, jalan menjadi bos, kalau itu yang anda mau, hanya di mimpi saja.

Biarpun Engkau Tidak Dilihat, Engkau Pun Turut Menjaga Zaman

Lingkungan seringkali berpengaruh, atau malah menjadi sasaran kambing hitam atas kejelekan kita sendiri. “Kenapa Anda membuang sampah sembarangan?” dijawab “Semua orang juga seperti itu,” atau “Pemerintah juga ngga peduli dengan kebersihan.”

Apa mungkin kita tumbuh baik di lingkungan yang tidak baik? Pertanyaan yang lebih tepat, bukan mungkin atau tidak mungkin, tapi mau atau tidak mau. Mau kah kita tumbuh baik di lingkungan yang tidak baik? Pasti dibutuhkan usaha yang jauh lebih keras, ibarat teratai yang tumbuh di lumpur atau rawa, bunga yang indah tapi tidak terlihat, bukan hanya tumbuh baik, tapi juga turut memberi keindahan kepada lingkungan sekitarnya.

TERATAI
Oleh Sanusi Pane, Kepada Ki Hajar Dewantoro

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia
Teruslah O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman
Biarpun engkau tidak dilihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau pun turut menjaga zaman

Tidak Ada Mimpi Yang Salah, Kecuali Anda Bermimpi Menjadi Diktator Tangan Besi

Ditengah kesibukan anda yang segudang, coba mundur sejenak, dan tanyakan hal ini: “Apakah yang saya lakukan sekarang, baik sebagai karyawan atau usaha sendiri, sesuai dengan mimpi saya? Jika anda termasuk orang yang menganut paham “mimpi tak seindah kenyataan”, anda bisa jadi memandang sinis kepada pertanyaan tersebut. Bisa jadi anda bersikap demikian, karena pernah satu kali anda tidak berhasil mencapai mimpi anda – yang biasa disebut kegagalan. Pembunuh mimpi.

Satu hal yang saya pelajari dari ketidakberhasilan mencapai mimpi, adalah jangan terlalu sensitif dan mengambilnya secara personal. Artinya, jangan mulai menyalahkan dan memandang rendah diri sendiri. Bisa jadi waktunya belum tepat. Bisa jadi hal itu tidak baik untuk anda. Bisa jadi itu bukan yang terbaik untuk anda pada saat ini. Yang paling penting adalah, jangan melepaskan pandangan dari sasaran-mimpi anda, dan jangan menyalahkan mimpi anda.

Tidak ada mimpi yang salah, kecuali anda bermimpi menjadi diktator tangan besi. Jangan biarkan diri anda terjebak dalam “mimpi tak seindah kenyataan”. Anda layak untuk bahagia, dan anda lebih baik dari yang anda kira. Jangan lepaskan pandangan dari mimpi anda.

Bersembunyi Di Belakang Alasan Yang Besar

Sembunyi Alasan Besar
“Orang Indonesia itu pinter-pinter, hanya masalah Bahasa Inggris aja yang kalah dengan orang India atau Filipina,” itu komentar salah seorang kawan saya saat kami membahas tentang banyaknya pekerja profesional dari India dan Filipina yang merambah ke berbagai penjuru dunia, khususnya Singapore. Apa betul itu masalah Bahasa Inggris aja?
Saat saya kerja di British Telecoms, salah satu anggota tim saya berasal dari India, asli India. Sampai 4 bulan pertama, susah sekali untuk mengerti Bahasa Inggris yang dia ucapkan. Tapi memasuki bulan ke-5, Bahasa Inggrisnya membaik, dan terus membaik. Masalah Bahasa Inggris?

Untuk bisa memperbaiki diri, pertama kita harus mengakui bahwa kita memiliki kekurangan. Jangan menyembunyikannya di belakang alasan yang membuat seolah-olah kekurangan itu diluar kuasa kita. Dibutuhkan alasan yang makin besar untuk menyembunyikan kekurangan yang besar, dan seringkali untuk mendapat alasan yang besar, alasan itu harus dibuat-buat. Jangan. Lebih penting untuk kita mengakui kekurangan dan melakukan perbaikan kecil yang kontinu. Orang jarang mengingat kekurangan jaman dulu, orang akan lebih mengingat keberhasilan yang kita capai.