Lebih Baik Diam

Ada dua saat yang berbahaya untuk kita banyak bicara: Saat senang, dan saat marah. Saat senang kita cenderung mengumbar janji. Saat marah, kita cenderung menyakiti orang lain.

Dengan janji, kita menyedot harapan dari orang lain. Kita bawa energi harapan ini bersama kita, dan idealnya, saat kita menepati janji, energi ini kita kembalikan kepada orang yang kita beri janji. Saat janji tidak ditepati, energi orang tersebut tidak seimbang, akhirnya muncul perasaan negatif karena janji yang tidak ditepati. Saat yang paling buruk untuk memberi janji adalah saat anda dalam keadaan senang. Lebih baik diam.

Saat marah, kebanyakan orang sudah tidak bisa berpikir lurus lagi. Dalam kondisi ekstrim, beberapa orang bahkan bisa sampai menyakiti fisik orang lain. Jangan menyambut undangan untuk berkata terlalu banyak saat marah. Dalam kondisi panas, layaknya api, cara yang terbaik adalah bertemu dengan air. Basuh tangan, mulut, hidung, lengan, muka, kepala, kuping, dan kaki anda. Lebih baik diam.

Iklan

Mudah Sekali Untuk Menjadi Yang Tergantikan

Mudah sekali untuk menjadi yang tergantikan. Seorang anak menjadi lebih dekat atau mengidolakan orang lain, karena ayahnya ‘tidak memiliki waktu’ bersamanya. Seorang istri/suami menjadi lebih dekat dan nyaman bersama orang lain, karena sang kekasih ‘tidak memiliki waktu’ bersamanya. Seorang karyawan mendapat penilaian buruk dan kehilangan kesempatan promosi karena ‘tidak memiliki waktu’ bersama koleganya. Dari sisi orang yang tergantikan, adil untuk berkata “Apa yang saya lakukan adalah untuk kamu. Semua kerja dan waktu 24 jam yang digunakan.” Sayangnya, seperti kebanyakan realitas hidup yang terasa tidak adil, hal itu tidak cukup. Kita harus ada untuk orang lain, bukan hanya dalam semangat, tapi juga secara fisik. Kita harus meluangkan waktu untuk bicara dengan anak kita. Kita harus meluangkan waktu untuk bicara dengan pasangan kita. Kita harus meluangkan waktu untuk bicara dengan kolega kita. Di dunia yang serba tidak adil ini, kerja keras atau melakukan sesuatu untuk orang lain saja tidak cukup. Kita harus ada secara fisik untuk orang lain supaya tidak menjadi yang tergantikan.

Anda Bisa Hidup Seribu Tahun

Salah satu cara untuk selalu diingat orang, adalah dengan memberi kesempatan kepada orang lain. Jarang sekali kita mengingat orang lain karena kekayaan, atau jabatan yang dimiliki. Hal itu hilang seiring berjalannya waktu. Memberi kesempatan bisa bertahan lama karena dia memenuhi harapan, dan harapan adalah salah satu hal yang membuat kita bisa bertahan dan merasa hidup.

Jika anda seorang atasan, coba beri kesempatan kepada anak buah untuk mencoba suatu tugas, jangan dimulai dengan “Rasanya kamu ngga bakal sanggup deh..” Demikian juga jika anda seorang ayah, coba beri kesempatan kepada anak laki-laki anda untuk mencoba suatu hobi, jangan dimulai dengan “Rasanya bakat kamu bukan disitu deh…” Siapapun anda, coba beri kesempatan kepada orang lain. Anda bisa hidup seribu tahun dalam kenangan orang dengan memberi kesempatan kepada orang lain.

Kembali Ke Masa Kecil

20120922-210155.jpg
Hari ini, lakukan paling tidak satu hal yang biasa anda lakukan saat anda masih anak-anak: makan es krim sambil duduk di rumput, memanjat pohon, memetik bunga yang ada madunya, bermain layangan, meniup bubbles. Pengalaman apapun yang bisa membangkitkan kenangan menyenangkan saat anda masih kecil. Anda tidak akan percaya bagaimana efek baiknya melakukan satu dari hal diatas terhadap mood anda.

Empat Hal Yang Bisa Membuat Hidup Lebih Bahagia, Tidak Perlu Uang Satu Milyar

Anda mungkin sudah sering mendengar tentang apa kunci kebahagiaan, atau anda memiliki pandangan sendiri mengenai keadaan apa yang kira-kira bisa membuat anda bahagia. Sebanyak apapun kita mendengar atau membaca tentang kunci kebahagiaan, sulit untuk tidak berpikir bahwa uang adalah kunci segalanya. “Beri saya satu Milyar, nanti saya beri tahu hasilnya,” demikian kata seorang kawan menanggapi komentar bahwa uang bukan kunci kebahagiaan. Sore ini saya chat dengan kawan lama, dan saya bertanya tentang bagaimana dia bisa selalu terlihat bahagia. Selalu menarik untuk mengetahui apa yang membuat orang lain bahagia.

Yang pertama adalah untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan. Hal yang sering anda dengar? Hanya mengetahui, dan benar-benar melakukan itu dua hal yang berbeda. Kata teman saya, Tuhan selalu memberi kecukupan diatas keterbatasan kita.

Yang kedua, adalah jangan terlalu sering melihat keatas. Tadi sore saya coba untuk berjalan sambil melihat keatas. Bukan hanya kita tidak bisa melihat kemana tujuan kita melangkah, kita juga tidak bisa menikmati apa yang ada disekitar kita.

Yang ketiga, adalah memberi kepada orang terdekat yang kekurangan. Secara logika, jika anda memberi, berarti ada yang berkurang, kan? Tapi kebahagiaan bukan hanya tentang bertambahnya materi. Kebahagiaan juga bisa muncul dengan melihat orang lain bahagia. Kebahagiaan menular.

Yang keempat, untuk menjadi bahagia, adalah dengan becanda. Saya jadi inget salah satu quote yang mengatakan “Jangan terlalu serius dalam hidup di dunia, anda tidak akan keluar hidup-hidup dari dunia.” Bukan berarti kita bisa hidup seenaknya, tapi hal ini menekankan kita untuk bisa lebih santai menghadapi permasalahan dan tantangan hidup yang memang akan selalu ada di dunia.

Empat hal yang bisa membuat hidup lebih bahagia, tidak perlu uang satu Milyar. Seperti kata Jim Carrey tentang kebahagiaan: “Saya berharap setiap orang bisa kaya dan terkenal, dan menjadi apapun yang mereka impikan, sehingga mereka bisa melihat bahwa hal-hal itu bukanlah jawabannya.”

Jangan Jadi Pembasmi Potensi Orang Lain

Saya tidak ingat dengan pasti saat itu sedang ujian apa, tapi yang saya ingat, saat sedang asiknya mencorat-coret kertas buram dengan berbagai gambar dan sketsa, seorang guru menghampiri saya dengan muka kesal, seolah-olah saya berbuat salah, kemudian mengambil kertas buram tersebut tanpa ba-bi-bu. “Kenapa?” tanya saya dengan spontan. Jawabannya hanya gelengan kepala, dan kertas buram hasil coretan saya itu lenyap untuk selamanya.

Setelah bertahun-tahun membaca, belajar, dan mengamati berbagai orang tentang kreativitas, saya menyadari bahwa membuat sketsa dan bertanya ‘Kenapa?’ adalah salah satu kunci penting dalam menemukan dan menuangkan ide brilian. Leonardo Da Vinci sampai J. K. Rowling, semua menggunakan sketsa dan coretan pada kertas bahkan pada serbet makan, untuk mencari dan menuangkan ide. Mereka juga selalu bertanya “Kenapa?”, karena mempertanyakan asumsi adalah salah satu jalan pembuka pengetahuan dan ide baru.

Sebagai pendidik, baik sebagai guru formal, senior, manager, orangtua, kakak, atau apapun, kita harus belajar untuk tidak mencoba mematikan potensi orang lain dengan larangan tanpa alasan yang jelas, hanya karena kita bisa berbuat demikian. Kita harus belajar untuk melihat jauh ke depan, bahwa dibalik coretan dan pertanyaan “Kenapa?” itu akan muncul ide-ide yang mungkin bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, atau akan muncul ide-ide yang bisa menyelamatkan hidup orang banyak. Kita tidak akan pernah tahu. Jangan jadi pembasmi potensi orang lain.

Mau Marah? Tarik Nafas Dan Tersenyum

Kemarin saya membentak anak saya, karena dia setengah berteriak menjawab omongan saya dari jauh. Sore harinya, untuk sebab yang lain, dia jatuh sakit. Seharian dia tidur, dan saya merasa sangat menyesal telah membentak dia. Istri saya mengingatkan bahwa kita harus ingat dengan siapa kita berhadapan. Anak kecil masih banyak belajar, dan tugas kita sebagai orangtua adalah untuk tidak letih memberi arahan dan peringatan agar dia bisa menjadi manusia yang lebih baik. Dan amarah tidak pernah menjadi guru yang baik.

Ada apa dengan amarah? Marah itu hal yang gampang sekali. Kenapa marah itu mudah, dan orang cenderung menyesal karena marah? Hal itu mudah, karena sisi emosional lebih dulu terpicu di otak saat kita menerima informasi dari luar. Ini semacam gerakan refleks, yang kalau dituruti, bakal membuat kita jadi orang yang meledak. Kenapa orang cenderung menyesal setelah marah? Karena sisi logika itu lebih lambat menerima informasi dibanding sisi emosional. Saat sisi emosional sudah terpicu, baru sisi logika selesai memproses informasi tersebut.
Bagaimana caranya membuat respon refleks dari sisi emosional bisa teredam? Caranya adalah dengan membuat gerakan sadar, yang membuat sisi logika memiliki waktu untuk memproses informasi yang datang. Ini salah satu contohnya: Saat ada sesuatu yang membuat anda akan marah, tarik nafas panjang, buang nafas, kemudian tersenyum yang lebar. Dengan membuat gerakan sadar, anda memberi waktu kepada sisi logika untuk memberi respon semacam “Oh, ini suatu hal yang saya tidak perlu marah. Ini bisa diselesaikan dengan cara yang baik dan lembut.” Dalam ajaran Islam, dinasihatkan untuk mengambil air wudhu saat marah. Keliatannya ini salah satu rahasia dibalik anjuran tersebut: untuk meredam sisi emosional yang cenderung refleks.

Saya baru memikirkan metode itu semalam, setelah berpikir tentang bentakan terhadap anak saya. Menyesal tidak ada gunanya, jika kita tidak mau memikirkan solusi yang lebih baik. Menjadi lebih baik harus diawali dengan niat yang baik, dijalankan dengan sepenuh hati, dan menggunakan metode yang benar.