Malas (Bisa Jadi) Positif

Hari ini malasnya bukan main. Mungkin karena aura liburan tahun baru Cina udah menyebar, dan teman-teman kantor hampir semuanya udah pulang. Butuh tekad baja untuk tetap semangat di rapat-rapat, yang hampir ngga berhenti dari pagi sampai sore.

Malas identik dengan hal negatif, jadi sesuatu yang sebisa mungkin dihindari. Tapi malas itu bisa jadi positif juga loh. Banyak penemuan-penemuan penting  yang didasari oleh rasa malas. Contoh sederhana yang baru kepikiran adalah roda dan sepeda. Penemunya malas jalan, dan mencoba mencari cara untuk  melakukan sesuatu dengan lebih mudah. Efek malas itu bagus juga, karena kita jadi cenderung berpikir sederhana, ngga ngejlimet.

Sekarang waktunya pulang dulu ah. Bener-bener long weekend di Singapore. Hari Senin dan Selasa juga libur menyambut tahun baru Cina. Gong xi fa cai!

Iklan

Waktu Yang Kita Miliki Terlalu Singkat Untuk Berdebat Panjang

Hampir semua orang setuju bahwa waktu yang kita miliki sangat singkat. Setiap orang diberi waktu yang sama setiap harinya, 24 jam, tapi banyak yang merasa tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan banyak hal. Bisa menghemat waktu adalah suatu hal yang berharga, dan membuang-buang waktu adalah suatu hal yang merugikan.

Salah satu kegiatan yang sering membuang waktu adalah berdebat, terutama berdebat dengan alasan hanya untuk berdebat. Saya pernah ditanya oleh salah seorang kolega setelah melihat saya shalat: “Apa buktinya bahwa kehidupan setelah mati itu ada?” Saya bertanya balik: “Apa buktinya bahwa kehidupan setelah mati itu TIDAK ada? Dia pun bingung menjawab pertanyaan saya. Ini salah satu cara menandakan jika sesuatu hal itu akan memakan waktu, dan mungkin membuang waktu jika dibahas: dengan bertanya balik dan mempertanyakan asumsi dari yang bertanya/berkomentar. Jika orang yang bertanya/berkomentar tidak bisa menjawab atau kebingungan, lebih baik kita mengerjakan dan memikirkan hal lain. Ini juga jadi pelajaran buat diri kita sendiri, supaya tidak membuang waktu orang lain. Jika ingin berkomentar, sediakan juga solusinya, jangan hanya berkomentar untuk mengundang debat yang tidak ada habisnya. Waktu yang kita miliki terlalu singkat untuk berdebat panjang.

I Love Your Country!

Jum’at malam yang cerah. Saya baru saja mendarat di Bandara Changi – Singapore dengan badan yang lelah setelah dua hari penuh berada di KL untuk urusan bisnis. Saat berjalan menuju taxi, saya disambut senyum ramah bapak setengah baya yang menjadi supirnya. Begitu saya duduk di bangku belakang, si supir menyapa “Good evening, it’s a long day, wasn’t it?” Saya tersenyum, mengangguk pelan sambil menjawab “Yes, it was.”
Kemudian dia melanjutkan pembicaraan sampai suatu saat dia bertanya “Are you Filipino?” Ini bukan pertama kalinya saya dikira orang Filipina, malah saya selalu dikira orang Filipina. Saya menjawab “No, I’m from Indonesia. Bandung – Indonesia.”
Raut wajah si bapak supir itu langsung berubah, matanya berbinar-binar, dan dia tersenyum lebar sambil berkata setengah teriak “I Love Your Country!”

Kata-kata bapak itu membuat saya kaget, dan tiba-tiba rasa kantuk saya hilang. Penasaran dengan ucapan tersebut, saya bertanya kenapa dia mencintai Indonesia. “You have a lot of beautiful cities! Good food. Not-boring country. The people are nice. I Love Your Country!” Bapak itu bercerita betapa dia menikmati waktunya di beberapa kota di Indonesia, dan dia tidak sabar untuk kembali ke Indonesia dalam 1-2 bulan ke depan, kali ini untuk menjumpai suku Dayak. Pikiran saya kembali ke beberapa saat lalu, saat saya membuka detik.com, dan mendapati betapa banyaknya berita negatif di Indonesia yang membuat saya bertanya-tanya “Apa yang terjadi, dan bagaimana masa depan Indonesia?”

Tidak ada sesuatu yang hebat pernah tercapai tanpa antusiasme.

Saya ingat salah satu quote dari Ralph Waldo Emerson: “Tidak ada sesuatu yang hebat pernah tercapai tanpa antusiasme.” Bisa jadi jawaban untuk masa depan Indonesia yang hebat ada diatas: mencintai Indonesia dengan antusias. Bagaimana mencintai Indonesia dengan antusias? Bakal ada 1001 jawaban tentang hal tersebut. Tentu saja antusias nya harus ke arah positif. Antusias melakukan korupsi tentunya sesuatu yang konyol untuk dilakukan 🙂
Antusiasme itu menular. Jika Indonesia memiliki 1000 orang bapak supir itu, bisa jadi kita bisa mencapai Indonesia yang hebat dengan segera. Jika tidak, mungkin bisa dimulai dari diri anda sendiri?

Salam Insan Super!!!
Borrys Hasian

Note: Apa ide anda tentang mencintai Indonesia dengan antusias? Mungkin Anda bisa share bagaimana tindakan nyata untuk mencintai Indonesia dengan antusias?

Indonesia Pusaka