Anda Bisa Hidup Seribu Tahun

Salah satu cara untuk selalu diingat orang, adalah dengan memberi kesempatan kepada orang lain. Jarang sekali kita mengingat orang lain karena kekayaan, atau jabatan yang dimiliki. Hal itu hilang seiring berjalannya waktu. Memberi kesempatan bisa bertahan lama karena dia memenuhi harapan, dan harapan adalah salah satu hal yang membuat kita bisa bertahan dan merasa hidup.

Jika anda seorang atasan, coba beri kesempatan kepada anak buah untuk mencoba suatu tugas, jangan dimulai dengan “Rasanya kamu ngga bakal sanggup deh..” Demikian juga jika anda seorang ayah, coba beri kesempatan kepada anak laki-laki anda untuk mencoba suatu hobi, jangan dimulai dengan “Rasanya bakat kamu bukan disitu deh…” Siapapun anda, coba beri kesempatan kepada orang lain. Anda bisa hidup seribu tahun dalam kenangan orang dengan memberi kesempatan kepada orang lain.

Iklan

Menghindari Pusing Karena Kerjaan Yang Menumpuk

Banyak yang sering merasa pusing karena kerjaan yang menumpuk. Pusingnya disebabkan oleh bingung dari mana harus memulai, dan karena ‘perasaan kok banyak banget ya kerjaannya.’ Buat saya, hal itu bisa dihindari dengan memiliki aplikasi ‘To-do List’. Dengan aplikasi ‘To-do List’, kita bisa melihat berapa banyak tugas yang harus kita kerjakan, dan yang paling penting: kita bisa menetapkan prioritas (karena waktu kita sehari hanya 24 jam), dan tidak ada yang terlewat. Intinya adalah memindahkan semua daftar itu dari kepala kita, dan meletakannya di suatu tempat yang bisa dijadikan rujukan sewaktu-waktu. Aplikasi ‘To-do List’ yang baik malah menyediakan fitur seperti menetapkan deadline, atau mengelompokkan beberapa tugas kedalam suatu folder. Jangan menyimpan semua di kepala anda, itu salah satu penyebab utama kita sering pusing dengan kerjaan yang menumpuk dan tidak tahu darimana harus memulai.

Note: Aplikasi To-do list yang saya gunakan adalah Things. Sayangnya ini hanya tersedia di iOS. Jika anda menggunakan Android phone atau BB, silakan coba cari via Google.

Lebih Dekat Bersama Keluarga Dengan Teknologi

Teknologi bisa memiliki efek negatif dan positif. Beberapa mengatakan teknologi mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Menjauhkan yang dekat, misalnya dalam keluarga, masing-masing anggota keluarga sibuk dengan gadgetnya masing-masing, dan jadi jarang berkumpul. Kemarin minggu, saya dan istri mencoba menjauhkan anak-anak dari gadgetnya masing-masing, dan membuat suatu film singkat menggunakan aplikasi iMovie di iPad. Filmnya sungguh singkat, hanya sekitar satu menit, tapi pembuatannya hampir memakan waktu tiga jam. Dan dalam waktu tiga jam itu, kami benar-benar ‘having fun’, bertambah dekat, dan tiba-tiba menjadi kreatif dengan ide-ide lucu. Anda mesti mencobanya bersama keluarga atau teman-teman. Ini film singkat kami, tentang Super Family, Enjoy!

Kembali Ke Masa Kecil

20120922-210155.jpg
Hari ini, lakukan paling tidak satu hal yang biasa anda lakukan saat anda masih anak-anak: makan es krim sambil duduk di rumput, memanjat pohon, memetik bunga yang ada madunya, bermain layangan, meniup bubbles. Pengalaman apapun yang bisa membangkitkan kenangan menyenangkan saat anda masih kecil. Anda tidak akan percaya bagaimana efek baiknya melakukan satu dari hal diatas terhadap mood anda.

Jika Anda Mencoba Lebih Keras, Hal Itu Akan Menjadi Lebih Mudah

Suatu ketika saya berada di kelas kursus bahas Inggris, dengan pengajar native speaker, namanya Bill, yang tidak terlalu bisa bahasa Indonesia. Masing-masing dari kami diminta untuk bercerita tentang apa saja selama 2-3 menit. Giliran saya pun tiba, dan saya terdiam selama beberapa saat, mencoba merangkai kata yang benar dalam bahasa Inggris. Melihat saya ragu, Bill kemudian berkata “If you try harder, it will become easier.” Jika anda mencoba lebih keras, hal itu akan menjadi lebih mudah.

Itu kira-kira 15 tahun yang lalu, tapi kata-kata itu masih saya ingat sampai sekarang, karena dia beberapa kali membantu saya melewati masa-masa sulit. Saat menghadapi keadaan yang mengancam, naluri kita berkata untuk menyelamatkan diri, hal ini sudah terbentuk sejak ribuan tahun lalu di otak manusia. Saat nenek moyang kita melihat binatang buas, pertanyaan pertama yang ada di otak adalah “Apakah dia akan membunuh saya?”

Dalam dunia modern, binatang buas-atau kita sebut ancaman, muncul dalam berbagai bentuk. Dalam dunia kerja, ada pekerjaan yang sulit dan kita rasa akan mengancam karir, ada juga bos yang sulit, dan membuat kita meragukan kemampuan kita dalam menyelesaikan pekerjaan, dan berbagai macam bentuk ancaman lainnya. Sama halnya dengan kehidupan sehari-hari, selalu ada hal yang membuat kita merasa terancam dan ingin lari.

Saya beberapa kali menghadapi keadaan semacam itu, dan nasihat “If you try harder, it will become easier,” membantu saya mengatasi ancaman dan keraguan tersebut. Saat anda merasa ingin berhenti atau lari, coba paksa dan dorong diri anda untuk melewatinya selama satu minggu, satu bulan, atau bahkan satu tahun. Dorongan naluri yang impulsif akan membujuk anda untuk berhenti dan lari dari ancaman, tapi hal itu seringkali tidak akan membantu anda untuk berkembang. Untuk berkembang dan maju ke depan, anda harus menjadi lebih dari apa yang anda miliki sekarang, mencoba lebih keras, dan segalanya akan menjadi lebih mudah. “If you try harder, it will become eaiser.”

Empat Hal Yang Bisa Membuat Hidup Lebih Bahagia, Tidak Perlu Uang Satu Milyar

Anda mungkin sudah sering mendengar tentang apa kunci kebahagiaan, atau anda memiliki pandangan sendiri mengenai keadaan apa yang kira-kira bisa membuat anda bahagia. Sebanyak apapun kita mendengar atau membaca tentang kunci kebahagiaan, sulit untuk tidak berpikir bahwa uang adalah kunci segalanya. “Beri saya satu Milyar, nanti saya beri tahu hasilnya,” demikian kata seorang kawan menanggapi komentar bahwa uang bukan kunci kebahagiaan. Sore ini saya chat dengan kawan lama, dan saya bertanya tentang bagaimana dia bisa selalu terlihat bahagia. Selalu menarik untuk mengetahui apa yang membuat orang lain bahagia.

Yang pertama adalah untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan. Hal yang sering anda dengar? Hanya mengetahui, dan benar-benar melakukan itu dua hal yang berbeda. Kata teman saya, Tuhan selalu memberi kecukupan diatas keterbatasan kita.

Yang kedua, adalah jangan terlalu sering melihat keatas. Tadi sore saya coba untuk berjalan sambil melihat keatas. Bukan hanya kita tidak bisa melihat kemana tujuan kita melangkah, kita juga tidak bisa menikmati apa yang ada disekitar kita.

Yang ketiga, adalah memberi kepada orang terdekat yang kekurangan. Secara logika, jika anda memberi, berarti ada yang berkurang, kan? Tapi kebahagiaan bukan hanya tentang bertambahnya materi. Kebahagiaan juga bisa muncul dengan melihat orang lain bahagia. Kebahagiaan menular.

Yang keempat, untuk menjadi bahagia, adalah dengan becanda. Saya jadi inget salah satu quote yang mengatakan “Jangan terlalu serius dalam hidup di dunia, anda tidak akan keluar hidup-hidup dari dunia.” Bukan berarti kita bisa hidup seenaknya, tapi hal ini menekankan kita untuk bisa lebih santai menghadapi permasalahan dan tantangan hidup yang memang akan selalu ada di dunia.

Empat hal yang bisa membuat hidup lebih bahagia, tidak perlu uang satu Milyar. Seperti kata Jim Carrey tentang kebahagiaan: “Saya berharap setiap orang bisa kaya dan terkenal, dan menjadi apapun yang mereka impikan, sehingga mereka bisa melihat bahwa hal-hal itu bukanlah jawabannya.”

Anda Tidak Akan Pernah Menjadi Bos Dengan Mental Seperti Ini

Kenapa banyak orang beranggapan kalau jadi bos itu enak? Ada yang bilang karena tinggal suruh anak buah mengerjakan sesuatu, dan bisa lebih santai dengan gaji yang lebih tinggi. Bagian gaji lebih tinggi nya betul, tapi tinggal suruh dan lebih santai? Rasanya tidak, paling tidak berdasarkan pengamatan saya sendiri.

Walaupun belum jadi bos, saya mendapat kesempatan untuk menghadiri rapat strategik perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Perusahaan dengan pendapatan sekitar 20 Trilyun Rupiah, dan total karyawan diatas 10.000 di seluruh dunia. Rapat strategik tersebut dihadiri sekitar 50 orang kunci, untuk brainstorm dan memformulasikan strategi perusahaan tiga tahun ke depan. Jelas kebanyakan dari mereka adalah bos beneran. Apa yang saya pelajari dari mereka? Para bos adalah orang yang ‘hidup mati’ nya untuk perusahaan dan bekerja lebih keras dari orang-orang lain di perusahaan. Betul bahwa gaji mereka lebih tinngi, tapi untuk ‘tinggal suruh anak buah’? Otak mereka diperas berpuluh kali lipat untuk bisa muncul dengan daftar ‘suruhan’. Lebih santai? Itu mungkin hanya ada di sinetron.

Jangan tertipu dengan apa yang terlihat di permukaan. Para bos terlihat santai, karena itu salah satu kualitas penting yang harus dimiliki pemimpin. Kalau para bos selalu terlihat penuh ketegangan, bisa bayangkan efeknya terhadap anak buah dan kinerja perusahaan secara umum? Ada lagi yang penting, mental ‘wah kalau jadi bos sih enak’ itu berbahaya untuk karir kita. Bisa jadi itu pertanda bahwa kita malas, tidak bersyukur, atau mau cari gampangnya. Dengan mental seperti ini, jalan menjadi bos, kalau itu yang anda mau, hanya di mimpi saja.