Sulitnya Menahan Marah

Meledak untuk marah itu paling gampang dilakukan, tapi menahan untuk tidak marah, malah bisa tersenyum dan tetap berbicara dengan baik, itu sulitnya bukan main. Pikiran anda harus selalu selangkah didepan emosi. Salah satu caranya adalah ketika marah sudah di ubun-ubun, tarik nafas panjang dan paksa untuk tersenyum disaat Anda membuang nafas, dan mohon ampun kepada ALLAH di dalam hati. Ingat, yang paling hebat itu bukan orang yang selalu menang di setiap pertempuran. Yang paling hebat itu orang yang bisa menahan dirinya ketika ada kesempatan untuk marah.

Siramlah Api Kemarahan Dengan Ingatan Baik

Pesan dari Om Mario Teguh:

Engkau sering mengatakan cinta dan kebesarannya, tapi sering juga bertengkar mengenai hal-hal yang kecil. Jika engkau mencintainya, engkau tak mungkin mampu marah sekejam itu, dan berbicara sekasar itu.

Maka siramlah api kemarahanmu kepadanya dengan ingatan baik dari yang dilakukannya di dalam cintanya kepadamu.

Jika cintamu kepadanya tidak untuk membahagiakannya, mengapakah engkau menginginkannya untuk bersamamu. Apakah kebaikan yang bisa diharapkan oleh orang yang mencintaimu?

Sesungguhnya, apakah untungnya mencintaimu?

Lebih Baik Diam

Ada dua saat yang berbahaya untuk kita banyak bicara: Saat senang, dan saat marah. Saat senang kita cenderung mengumbar janji. Saat marah, kita cenderung menyakiti orang lain.

Dengan janji, kita menyedot harapan dari orang lain. Kita bawa energi harapan ini bersama kita, dan idealnya, saat kita menepati janji, energi ini kita kembalikan kepada orang yang kita beri janji. Saat janji tidak ditepati, energi orang tersebut tidak seimbang, akhirnya muncul perasaan negatif karena janji yang tidak ditepati. Saat yang paling buruk untuk memberi janji adalah saat anda dalam keadaan senang. Lebih baik diam.

Saat marah, kebanyakan orang sudah tidak bisa berpikir lurus lagi. Dalam kondisi ekstrim, beberapa orang bahkan bisa sampai menyakiti fisik orang lain. Jangan menyambut undangan untuk berkata terlalu banyak saat marah. Dalam kondisi panas, layaknya api, cara yang terbaik adalah bertemu dengan air. Basuh tangan, mulut, hidung, lengan, muka, kepala, kuping, dan kaki anda. Lebih baik diam.

Mau Marah? Tarik Nafas Dan Tersenyum

Kemarin saya membentak anak saya, karena dia setengah berteriak menjawab omongan saya dari jauh. Sore harinya, untuk sebab yang lain, dia jatuh sakit. Seharian dia tidur, dan saya merasa sangat menyesal telah membentak dia. Istri saya mengingatkan bahwa kita harus ingat dengan siapa kita berhadapan. Anak kecil masih banyak belajar, dan tugas kita sebagai orangtua adalah untuk tidak letih memberi arahan dan peringatan agar dia bisa menjadi manusia yang lebih baik. Dan amarah tidak pernah menjadi guru yang baik.

Ada apa dengan amarah? Marah itu hal yang gampang sekali. Kenapa marah itu mudah, dan orang cenderung menyesal karena marah? Hal itu mudah, karena sisi emosional lebih dulu terpicu di otak saat kita menerima informasi dari luar. Ini semacam gerakan refleks, yang kalau dituruti, bakal membuat kita jadi orang yang meledak. Kenapa orang cenderung menyesal setelah marah? Karena sisi logika itu lebih lambat menerima informasi dibanding sisi emosional. Saat sisi emosional sudah terpicu, baru sisi logika selesai memproses informasi tersebut.
Bagaimana caranya membuat respon refleks dari sisi emosional bisa teredam? Caranya adalah dengan membuat gerakan sadar, yang membuat sisi logika memiliki waktu untuk memproses informasi yang datang. Ini salah satu contohnya: Saat ada sesuatu yang membuat anda akan marah, tarik nafas panjang, buang nafas, kemudian tersenyum yang lebar. Dengan membuat gerakan sadar, anda memberi waktu kepada sisi logika untuk memberi respon semacam “Oh, ini suatu hal yang saya tidak perlu marah. Ini bisa diselesaikan dengan cara yang baik dan lembut.” Dalam ajaran Islam, dinasihatkan untuk mengambil air wudhu saat marah. Keliatannya ini salah satu rahasia dibalik anjuran tersebut: untuk meredam sisi emosional yang cenderung refleks.

Saya baru memikirkan metode itu semalam, setelah berpikir tentang bentakan terhadap anak saya. Menyesal tidak ada gunanya, jika kita tidak mau memikirkan solusi yang lebih baik. Menjadi lebih baik harus diawali dengan niat yang baik, dijalankan dengan sepenuh hati, dan menggunakan metode yang benar.

Usul Yang Baik, Tapi Kami Belum Siap…

Satu hal di kantor yang membuat saya ngga suka (kalo bukan dikatakan benci) adalah sesuatu yang seharusnya bisa dibuat lebih baik, tapi ngga terlaksana karena orang yang mengerjakannya mau ambil gampang dan cepat.
Yang lebih membuat kesal lagi, orang tersebut tahu bahwa yang dikerjakannya itu kurang, malah ngga baik, tapi juga tetep dikerjakan. Aneh.

Tapi setelah beberapa kali melewati hal yang sama, mendengar orang-orang mengatakan “Itu usul yang baik, tapi kami belum siap,” sebagai alasan supaya ngga mau repot, akhirnya saya jadi ‘ngga peduli’ lagi.
Bukan ngga peduli dengan perusahaan, tapi saya ngga ambil ke hati, ngga kesel seperti dulu-dulu. Mereka yang rugi ini. Kalo kebanyakan kesel, malah jadi penyakit buat diri sendiri.

Untuk setiap menit anda merasa kesal/marah, anda kehilangan 60 detik kebahagiaan.

Anehnya, setelah saya menerapkan sikap ‘ngga kesel, mereka yang rugi ini’, orang-orang ini malah Lanjutkan membaca Usul Yang Baik, Tapi Kami Belum Siap…

Anda Punya Seumur Hidup Untuk Bekerja

Hari ini pertama masuk kantor, setelah 2 minggu ngga kerja karena sakit. Badan rasanya capek, mata pedih, apalagi pas pulang naek kereta yang padet, dan harus berdiri sepanjang hampir 2 jam perjalanan.
Tapi, begitu sampe rumah, pintu dibuka, disambut sama senyum istri dan teriakan gembira anak-anak, badan langsung seger, pikiran seger, dan capek sehari pun ilang, ibarat kemarau setaun yang hilang oleh hujan semalam.

Pas mau mandi, saya liat anak-anak maen berdua di kamar. Ngga kerasa air mata menetes. Tiba-tiba sedih membayangkan bahwa suatu saat mereka bakal hidup sendiri, ngga tinggal bareng dengan saya, dan saya membayangkan diri saya yang udah tua berdiri di depan bekas kamer mereka, dan membayangkan saat mereka kecil.
Baru membayangkannya aja, air mata ini ngga berentinya menetes.

“Anda punya seumur hidup untuk bekerja, tapi anak-anak hanya muda satu kali aja.”

Di kantor, kalo di mushalla, sering para bapak curhat mengenai waktu yang kurang dengan anak-anak. Kerja dari pagi sampe malam, bahkan weekend pun masih bekerja. Setiap pulang ke rumah, yang ada tinggal capek. Dan kalo anak-anak minta waktu sedikit, para bapak malah jadi kesel, marah-marah.

Saya pernah mengalami hal yang sama. Marah dan kesel karena anak-anak minta waktu, padahal Lanjutkan membaca Anda Punya Seumur Hidup Untuk Bekerja